Ekobis

Dari Sumur Migas ke Sarang Harapan: Efek Berganda Hulu Migas dalam Denyut Baru Ekonomi Desa

×

Dari Sumur Migas ke Sarang Harapan: Efek Berganda Hulu Migas dalam Denyut Baru Ekonomi Desa

Sebarkan artikel ini
(Sutrisno, Ketua Kelompok Budidaya Lebah Desa Suka Maju, saat memanen madu lebah dalam program pemberdayaan masyarakat yang didukung Pertamina Hulu Energi (PHE) di wilayah operasi hulu migas)

SumselMedia.Com, Jambi-

Di Desa Suka Maju, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, budidaya lebah madu perlahan menjadi bagian dari kehidupan baru masyarakat. Desa ini merupakan salah satu wilayah yang berada di sekitar area operasi hulu migas di Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Di desa itu, madu bukan lagi sekadar hasil alam. Dari budidaya lebah, tumbuh aktivitas ekonomi baru yang mulai menggerakkan kehidupan warga.

Cerita tentang lebah di desa ini mungkin terdengar sederhana. Namun di baliknya, tersimpan gambaran tentang bagaimana industri hulu migas dapat menghadirkan efek berganda yang menjangkau ekonomi, lingkungan, hingga kehidupan masyarakat di tingkat desa.

Bagi Sutrisno, Ketua Kelompok Budidaya Lebah Desa Suka Maju, perubahan itu terasa nyata dalam beberapa tahun terakhir.

“Alhamdulillah sejak ada bantuan budidaya lebah ini, banyak masyarakat terbantu. Ada yang bisa kuliahkan anak, menambah uang jajan anak, bahkan kredit motor,” tutur Sutrisno kepada Sumselmedia.com, Senin (25/5/2026).

Kalimat itu sederhana, tetapi menggambarkan perubahan besar yang sedang berlangsung di desa tersebut. Ini bagaikan titik balik dan harapan besar untuk anak-anak mereka bisa mengenyam pendidikan lebih tinggi ditengah tekanan biaya pendidikan saat ini.

Beberapa tahun lalu, kehidupan masyarakat Desa Suka Maju berjalan dalam ketidakpastian. Mayoritas warga menggantungkan hidup dari perkebunan kelapa sawit. Ketika masa peremajaan atau replanting datang, penghasilan masyarakat ikut menurun drastis.

Sebagian warga hanya mengandalkan pekerjaan serabutan. Sebagian lainnya bertahan dengan penghasilan seadanya sambil menunggu kebun kembali produktif.

Di tengah situasi itu, budidaya lebah madu mulai diperkenalkan melalui Beeyond Honey, program pemberdayaan masyarakat yang didukung Pertamina Hulu Energi (PHE) Jambi Merang di wilayah operasi hulu migas.

“Dulu kami hanya tahu lebah itu penghasil madu. Belum paham kalau ternyata bisa jadi usaha yang menjanjikan dan sekaligus menjaga lingkungan,” kata Sutrisno.

(Produk madu Beeyond Honey beserta berbagai produk turunannya siap dipasarkan dengan kemasan yang menarik dan bernilai jual)

Sejak 2021, warga mulai bergabung dalam kelompok budidaya lebah. Dari semula hanya memiliki sekitar 30 kotak lebah, kini jumlahnya berkembang menjadi 160 kotak. Luas area budidaya meningkat dari satu hektar menjadi empat hektar.

Dalam satu kotak lebah, masyarakat dapat menghasilkan satu hingga tiga kilogram madu setiap masa panen. Panen dilakukan sekitar dua bulan sekali. Dari usaha sampingan itu, sebagian anggota kelompok kini mampu memperoleh penghasilan tambahan mulai Rp2 juta hingga puluhan juta rupiah.

“Setelah dibantu PHE Jambi Merang, produktivitas meningkat. Sangat terasa manfaatnya bagi masyarakat,” ujar Sutrisno.

Efek Berganda Hulu Migas

Namun perubahan di Desa Suka Maju ternyata tidak berhenti pada madu. Di sinilah efek berganda industri hulu migas mulai terlihat.

Aktivitas hulu migas yang selama ini identik dengan produksi energi perlahan memunculkan denyut ekonomi baru di tingkat desa. Dari budidaya lebah, lahir berbagai aktivitas turunan seperti usaha pengemasan madu, produk olahan berbasis madu, koperasi desa, pelatihan UMKM, hingga promosi produk ke luar daerah.

Produksi madu kelompok kini mencapai sekitar 150 hingga 250 kilogram per bulan. Untuk penjualan curah, harga madu berkisar Rp22 ribu hingga Rp25 ribu per kilogram. Namun setelah diolah dan dikemas, nilai jualnya meningkat hingga sekitar Rp120 ribu per kilogram.

Perputaran ekonomi dari usaha tersebut mencapai puluhan juta rupiah setiap bulan. Koperasi Sukma Jaya dibentuk sebagai pusat pengelolaan produksi, pengemasan, dan pemasaran madu masyarakat.

Dari sana pula lahir UMKM Sedayu Sejahtera yang dikelola ibu rumah tangga desa melalui produk turunan seperti madu jahe instan, grubi, hingga keripik manis.

Bahkan limbah sarang lebah dimanfaatkan menjadi beeswax atau malam alami untuk kegiatan membatik di sekolah. Efek ekonomi itu perlahan menjalar ke banyak sisi kehidupan warga.

Ada ibu rumah tangga yang kini memiliki penghasilan sendiri. Ada pemuda desa yang mulai belajar pemasaran digital. Ada buruh harian yang memperoleh tambahan pemasukan setiap musim panen madu.

Kepala Departemen Formalitas dan Komunikasi SKK Migas Sumbagsel, Syafei Safri, menilai inilah salah satu wajah nyata efek berganda industri hulu migas di daerah operasi.

(Kepala Departemen Formalitas dan Komunikasi SKK Migas Sumbagsel, Syafei Safri)

“Sebagai industri vital bagi pertumbuhan ekonomi nasional, hulu migas tidak hanya memenuhi kebutuhan energi, tetapi juga harus memiliki tanggung jawab sosial terhadap lingkungan dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Menurut Syafei, efek berganda dapat dikatakan berhasil ketika masyarakat yang diberikan pembinaan mampu hidup mandiri dan berdaya secara ekonomi.

Sebelum program berjalan, masyarakat Desa Suka Maju sangat bergantung pada perkebunan sawit sebagai sumber penghasilan utama. Setelah program hadir, anggota kelompok budidaya lebah memperoleh tambahan pendapatan sekitar Rp600 ribu hingga Rp2 juta per bulan.

“Angka itu sudah melampaui garis kemiskinan Kabupaten Tanjung Jabung Timur,” katanya.

SKK Migas Sumbagsel juga tengah melakukan kajian Social Return on Investment (SROI) untuk mengukur dampak ekonomi dan sosial dari berbagai program pemberdayaan masyarakat di wilayah operasi hulu migas.

Kemandirian Ekonomi

(Pengamat ekonomi Prof. Dr. Sri Rahayu, MM)

Pengamat ekonomi Prof. Dr. Sri Rahayu, MM menilai, budidaya lebah di Desa Suka Maju menunjukkan bagaimana aktivitas industri hulu migas dapat memunculkan ekonomi baru yang hidup di tingkat masyarakat.

Menurutnya, efek berganda tidak cukup diukur dari meningkatnya pendapatan warga semata, tetapi juga dari tumbuhnya aktivitas ekonomi turunan dan kemampuan masyarakat membangun kemandirian usaha.

Multiplier effect yang kuat terjadi ketika ekonomi lokal mampu bergerak secara mandiri. Ketika muncul UMKM baru, koperasi berjalan, masyarakat memiliki keterampilan baru, hingga tercipta perputaran ekonomi di desa, itu menunjukkan dampak program mulai hidup. Dan ini terjadi di Desa Suka Maju ini,” jelasnya.

Namun Sri Rahayu mengingatkan bahwa tantangan terbesar dari program pemberdayaan masyarakat adalah keberlanjutan.

“Program tidak boleh berhenti pada bantuan. Yang paling penting adalah bagaimana masyarakat mampu melanjutkan usaha secara mandiri ketika pendampingan perusahaan selesai,” katanya.

Di balik geliat ekonomi itu, perubahan lain juga mulai terlihat pada lingkungan.
Dalam satu dekade terakhir, wilayah Jambi menghadapi tekanan akibat alih fungsi lahan dan ancaman kebakaran hutan serta lahan. Di tengah kondisi tersebut, keberadaan lebah menjadi salah satu penanda penting kesehatan ekosistem.

Efek Berganda Hingga Menjaga Ekosistem Lingkungan

(Pengamat lingkungan Assoc. Prof. Dr. Ian Kurniawan, ST., M.Eng., IPM., ASEAN Eng, ACPE)

Pengamat lingkungan Assoc. Prof. Dr. Ian Kurniawan, ST., M.Eng., IPM., ASEAN Eng, ACPE menjelaskan bahwa lebah merupakan bioindikator alami.

“Lebah hanya bisa bertahan di lingkungan yang relatif sehat. Jika populasinya berkembang, itu menandakan ekosistem mulai membaik,” ujarnya.

Melalui program ini, lebih dari 2.000 tanaman buah dan bunga ditanam sebagai sumber nektar dan serbuk sari bagi lebah. Selain mendukung produksi madu, revegetasi tersebut ikut membantu memulihkan kawasan yang sebelumnya mengalami degradasi lingkungan.

“Ketika masyarakat mulai menjaga lingkungan karena ada manfaat ekonomi, itu menjadi titik penting pembangunan berkelanjutan,” kata Ian.

Lingkungan menjadi lebih hijau. Masyarakat juga mulai menyadari pentingnya menjaga ekosistem karena berkaitan langsung dengan keberlangsungan budidaya lebah dan sumber penghasilan mereka.

“Sekarang masyarakat jadi ikut menjaga lingkungan. Kalau hutan rusak, lebah juga hilang,” urainya.

Manager Community Involvement & Development Regional 1 PHE Jambi Merang, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan Beeyond Honey memang dirancang bukan sekadar menghasilkan madu, tetapi membangun sistem pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan baik ekonomi maupun keberlanjutan ekosistem lingkungan.

Program tersebut dijalankan melalui tiga pendekatan utama: pelibatan masyarakat dalam merancang program, pelatihan teknis budidaya dan pemasaran, serta dukungan sarana produksi.

“Tujuan utamanya adalah membangun kemandirian masyarakat dan menciptakan keseimbangan antara operasi energi dengan pelestarian lingkungan,” ujarnya.

Menurut Iwan, tantangan terbesar program ini adalah mengubah pola pikir masyarakat dan menghadapi kondisi lingkungan yang telah mengalami degradasi akibat alih fungsi lahan.

Masyarakat tidak lagi sekadar memandang lebah sebagai penghasil madu, tetapi juga bagian penting dari keseimbangan lingkungan desa mereka.

Di Desa Suka Maju, perubahan memang tidak datang dalam dentuman besar. Ia tumbuh perlahan melalui tambahan penghasilan, tumbuhnya usaha-usaha baru, serta kesadaran masyarakat menjaga lingkungan.

Dari sarang-sarang lebah itu, lahir harapan baru tentang masa depan desa.

Di Desa Suka Maju, efek berganda hulu migas tidak hadir dalam angka-angka besar semata, melainkan dalam harapan baru yang tumbuh perlahan bersama dengung lebah di kehidupan masyarakat. (Sugiarto)