Ekobis

Dari Penglipuran ke Bumi Sriwijaya: Menyulam Masa Depan Pariwisata Berbasis Budaya

×

Dari Penglipuran ke Bumi Sriwijaya: Menyulam Masa Depan Pariwisata Berbasis Budaya

Sebarkan artikel ini
(Ramainya kunjungan wisatawan di Desa Wisata Penglipuran, Bali, menjadi gambaran keberhasilan pengelolaan destinasi yang mengedepankan budaya, kebersihan, dan keterlibatan masyarakat. Model tata kelola inilah yang dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan pariwisata Sumatera Selatan)

Lonjakan kunjungan wisatawan ke Sumatera Selatan menjadi peluang besar, namun tantangan lama menginap masih menanti. Penglipuran membuktikan bahwa budaya lokal dan keterlibatan masyarakat dapat menjadi fondasi desa wisata berkelas dunia.

SumselMedia.Com, BALI-

Saat matahari mulai meninggi, Desa Wisata Penglipuran di Kabupaten Bangli, Bali, menyambut wisatawan dengan wajah yang teduh dan tertata. Jalan utama desa dipenuhi langkah pengunjung yang menikmati suasana bersih dan asri, sementara kehidupan warga berjalan seperti biasa.

Di sebuah pekarangan rumah, Wayan Adiani, perempuan berusia 46 tahun, masih setia menyapu halaman sembari berjualan. Baginya, kebersihan bukan sekadar daya tarik wisata, melainkan nilai kehidupan yang telah mengakar dan diwariskan dari generasi ke generasi. Nilai sederhana itulah yang kemudian menjadi salah satu fondasi yang mengantarkan Penglipuran menjadi salah satu desa wisata yang diakui dunia.

“Bagi kami, kebersihan bukan pekerjaan tambahan ketika ada wisatawan datang. Ini adalah kebiasaan yang sudah diwariskan sejak dulu. Desa ini kami jaga bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk generasi berikutnya,” tutur Wayan kepada SumselMedia.Com, Selasa (21/7/2026).

Pelajaran itu terasa relevan ketika menengok potensi pariwisata Sumatera Selatan. Bumi Sriwijaya memiliki Sungai Musi, Benteng Kuto Besak, Kampung Kapitan, Kampung Al Munawar, rumah limas, kain songket, hingga lanskap pegunungan dan air terjun di Pagar Alam. Kekayaan itu bukan persoalan kurangnya daya tarik, melainkan bagaimana mengelolanya menjadi pengalaman wisata yang utuh.

Dalam lima tahun terakhir, jumlah perjalanan wisatawan nusantara ke Sumatera Selatan melonjak hampir empat kali lipat. Namun, di balik lonjakan itu terdapat satu indikator yang justru bergerak ke arah sebaliknya, rata-rata lama tinggal wisatawan. Di sinilah tantangan besar pariwisata Sumatera Selatan sesungguhnya berada.

(Jumlah perjalanan wisatawan nusantara ke Sumatera Selatan meningkat dari 6,82 juta pada 2021 menjadi 26,06 juta pada 2025. Namun, rata-rata lama menginap di hotel berbintang maupun nonbintang justru menurun. Data ini menunjukkan tantangan utama pariwisata Sumsel adalah menciptakan pengalaman yang membuat wisatawan tinggal lebih lama.
Sumber: BPS Sumatera Selatan, diolah SumselMedia.Com).

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah perjalanan wisatawan nusantara ke Sumatera Selatan meningkat dari 6,82 juta perjalanan pada 2021 menjadi 26,06 juta perjalanan pada 2025. Namun, rata-rata lama menginap (length of stay) di hotel berbintang justru turun dari 1,56 malam menjadi 1,35 malam, sedangkan hotel nonbintang turun dari 1,52 malam menjadi 1,16 malam.

Kepala BPS Sumatera Selatan, M. Wahyu Yulianto, mengatakan jumlah kunjungan dan rata-rata lama menginap merupakan dua indikator penting dalam mengukur keberhasilan sebuah destinasi wisata.

“Semakin lama wisatawan tinggal, semakin besar pula dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat. Pengeluaran wisatawan akan mengalir ke hotel, restoran, transportasi, UMKM, hingga berbagai sektor pendukung lainnya,” ujarnya.

Artinya, tantangan pariwisata Sumatera Selatan saat ini bukan semata mendatangkan lebih banyak wisatawan, tetapi menciptakan alasan agar mereka tinggal lebih lama.

Jawaban atas tantangan itu tampak di Penglipuran. Manajer Operasional Desa Wisata Penglipuran, I Made Ambarsika Abdi, menjelaskan bahwa keberhasilan desa tersebut lahir dari tata kelola yang melibatkan masyarakat. Kebersihan dijaga bersama, budaya tetap hidup, lingkungan dirawat, dan aktivitas ekonomi tumbuh seiring berkembangnya pariwisata.

(Manajer Operasional Desa Wisata Penglipuran, Made Ambarsika Abdi, menegaskan bahwa nilai utama yang ditawarkan kepada wisatawan adalah pengalaman hidup dan kebudayaan masyarakat yang tetap terjaga)

“Yang kami tawarkan bukan hanya desa yang indah, tetapi pengalaman hidup masyarakat. Wisatawan datang untuk merasakan budaya yang masih dijaga hingga hari ini,” katanya.

Konsep itu dapat diadaptasi di Sumatera Selatan. Bayangkan jika Benteng Kuto Besak, Kampung Kapitan, Kampung Al Munawar, Sungai Musi, Pulau Kemaro, hingga Pagar Alam dikemas dalam satu koridor wisata terpadu. Wisatawan tidak hanya berfoto, tetapi juga belajar menenun songket, memasak pempek bersama warga, menikmati pertunjukan seni, menyusuri Sungai Musi, hingga bermalam di homestay yang dikelola masyarakat.

Pengamat pariwisata Herlan Asfiudin menilai Sumatera Selatan memiliki modal yang sangat kuat karena mampu memadukan wisata sejarah, budaya, sungai, kuliner, dan alam dalam satu provinsi.

“Yang dibutuhkan sekarang adalah integrasi antardestinasi dan paket wisata yang membuat wisatawan memiliki alasan untuk tinggal lebih lama,” ujarnya.

Senada dengan itu, pengamat kebudayaan Vebri Al Lintani menilai budaya lokal harus menjadi identitas utama pariwisata Sumatera Selatan.

“Rumah limas, songket, tradisi Melayu, hingga kehidupan masyarakat di tepian Sungai Musi adalah kekuatan yang tidak dimiliki daerah lain. Itulah yang harus menjadi pembeda,” katanya.

Sementara itu, pengamat ekonomi Prof. Dr. Sri Rahayu, S.E., M.M., menegaskan bahwa peningkatan lama tinggal wisatawan akan memberikan efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian daerah.

“Semakin lama wisatawan berada di suatu destinasi, semakin besar pula manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat, mulai dari pelaku UMKM, perajin, transportasi, hingga sektor jasa lainnya,” ujarnya.

Komitmen tersebut juga mendapat dukungan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan, Dr. Rudi Irawan, S.Sos., M.Si. Menurutnya, pengembangan destinasi berbasis budaya membutuhkan kolaborasi seluruh pihak.

“Pemerintah, pelaku usaha perjalanan wisata, komunitas budaya, pengelola destinasi, pelaku ekonomi kreatif, dan masyarakat harus berjalan bersama agar pariwisata Sumatera Selatan semakin berdaya saing,” katanya.

Apa yang berhasil di Penglipuran sesungguhnya bukanlah soal Bali. Yang berhasil adalah tata kelola yang menempatkan masyarakat, budaya, dan lingkungan sebagai pusat pembangunan pariwisata. Itulah pelajaran yang paling berharga untuk Bumi Sriwijaya.

Penglipuran tidak mengajarkan Sumatera Selatan menjadi Bali kedua. Desa itu justru menunjukkan bahwa destinasi yang kuat lahir dari masyarakat yang menjaga budaya, lingkungan, dan identitasnya sendiri.

(Di Penglipuran, kepedulian menjaga kebersihan lingkungan telah menjadi bagian dari budaya yang diwariskan lintas generasi. Kesadaran warga lokal inilah yang menjadi fondasi keberlanjutan destinasi)

Pada akhirnya, masa depan pariwisata Sumatera Selatan tidak ditentukan oleh seberapa banyak wisatawan datang, melainkan oleh seberapa lama mereka memilih untuk tinggal. Penglipuran telah menunjukkan bahwa jawaban atas tantangan itu bukan semata membangun destinasi baru, melainkan merawat budaya yang telah lama dimiliki, melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama, dan menghadirkan pengalaman yang membuat wisatawan ingin kembali. Ketika hal itu terwujud, pariwisata tidak lagi sekadar mencatat angka kunjungan, tetapi menjadi penggerak ekonomi yang menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat. (Sugiarto)