SumselMedia.Com, Palembang-
Ketua National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Sumatera Selatan, Rian Yohwari, mendorong NPCI Kabupaten Lahat untuk terus membangun komunikasi dan berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Lahat guna memperjuangkan bonus atlet dan pelatih berprestasi pada Peparprov Sumsel ke-IV di Musi Banyuasin (Muba) 2025.
Rian menegaskan, penyelesaian persoalan bonus atlet harus tetap mengedepankan komunikasi, dialog, dan cara-cara yang santun. Namun, upaya tersebut diharapkan diikuti dengan respons positif serta langkah nyata dari pemerintah daerah agar para atlet memperoleh kepastian atas hak yang mereka nantikan.
Menurutnya, para atlet disabilitas telah berjuang membawa nama Kabupaten Lahat dalam ajang olahraga tingkat provinsi. Karena itu, persoalan bonus yang hingga kini belum terselesaikan perlu mendapatkan perhatian serius dan solusi yang jelas.
“Kami berharap NPCI Lahat terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah. Selama masih bisa didiskusikan, mari kita duduk bersama, komunikasikan dengan baik, dan cari jalan keluarnya secara santun. Kita tentu mengutamakan penyelesaian yang baik tanpa harus menimbulkan persoalan baru,” ujar Rian.
Meski demikian, Rian mengingatkan bahwa kesabaran para atlet juga perlu diimbangi dengan kepastian penyelesaian. Apabila berbagai upaya komunikasi telah ditempuh, tetapi tidak mendapatkan respons positif dan menemui jalan buntu, penyampaian aspirasi melalui aksi demonstrasi merupakan salah satu pilihan yang dapat dipertimbangkan.
Ia bahkan menyebut, solidaritas NPCI kabupaten/kota se-Sumatera Selatan berpotensi menjadi kekuatan bersama apabila perjuangan atlet disabilitas Lahat tidak menemukan titik terang.
“Teman-teman NPCI kabupaten/kota di Sumsel tentu memiliki rasa solidaritas yang kuat. Kami ini disabilitas, tetapi persatuan kami sangat kuat. Jika ada yang tersakiti, yang lain akan ikut bergerak. Ini soal waktu,” tegasnya.
Rian menekankan, dukungan tersebut bukan dimaksudkan untuk memperkeruh keadaan ataupun mempertentangkan atlet dengan pemerintah daerah. Sebaliknya, solidaritas itu merupakan bentuk kepedulian terhadap sesama atlet disabilitas yang sedang memperjuangkan kepastian atas bonus prestasi mereka.
Ia berharap pemerintah daerah dapat melihat persoalan ini dari sisi perjuangan dan kebutuhan para atlet. Bonus bukan semata-mata persoalan nominal, melainkan juga bentuk penghargaan atas kerja keras atlet yang telah mengharumkan nama daerah.
Karena itu, Rian mendorong agar NPCI Lahat dan pemerintah daerah tetap membuka ruang komunikasi, termasuk membahas kendala anggaran serta alternatif penyelesaian yang memungkinkan.
“Kalau pemerintah memberikan respons positif, membuka ruang dialog, dan benar-benar menunjukkan langkah untuk merealisasikan apa yang diperjuangkan teman-teman atlet Lahat, tentu kita harus menghargai itu. Kita tunggu dan kawal prosesnya. Yang terpenting ada kepastian dan iktikad baik untuk menyelesaikan persoalan ini,” ujarnya.
Namun, apabila komunikasi tidak menghasilkan kemajuan dan aspirasi atlet terus menemui jalan buntu, Rian menegaskan bahwa NPCI kabupaten/kota se-Sumsel memiliki semangat kebersamaan untuk mendukung perjuangan tersebut.
Baginya, penyelesaian melalui dialog tetap menjadi pilihan utama. Akan tetapi, solidaritas antaratlet disabilitas tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab moral untuk saling mendukung ketika salah satu daerah menghadapi persoalan yang menyangkut penghargaan atas prestasi atletnya.
Rian berharap persoalan bonus Peparprov Muba 2025 di Kabupaten Lahat dapat segera menemukan jalan keluar tanpa harus berujung pada aksi massa. Pemerintah daerah diharapkan memberikan penjelasan dan kepastian yang dapat diterima para atlet, sehingga energi mereka dapat kembali difokuskan pada pembinaan dan peningkatan prestasi olahraga disabilitas di Sumatera Selatan.













