SumselMedia.Com, Palembang-
Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas PGRI Palembang terus mendorong pengembangan budidaya perikanan air tawar yang efisien dan berkelanjutan melalui penerapan teknologi tepat guna. Salah satunya diwujudkan melalui pelatihan dan pendampingan pembuatan probiotik herbal secara mandiri bagi pembudidaya ikan di Unit Pembenihan Rakyat (UPR) Mutiara, Kecamatan Sematang Borang, Kota Palembang, Kamis (15/10/2026).
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini mengusung tema “Optimalisasi Budidaya Perikanan Air Tawar Berkelanjutan Berbasis Kemandirian Pakan Melalui Aplikasi Probiotik Herbal”. Kegiatan tersebut diikuti tim dosen, mahasiswa, serta anggota kelompok pembudidaya ikan air tawar setempat yang antusias mengikuti rangkaian pelatihan.
Ketua Pelaksana PkM, Sofian, S.Pi., M.Si., mengatakan kegiatan ini merupakan upaya perguruan tinggi untuk menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat diterapkan langsung oleh masyarakat, khususnya pembudidaya ikan.
Menurutnya, pakan merupakan salah satu komponen biaya terbesar dalam usaha budidaya perikanan, yang dapat mencapai 60–70 persen dari total biaya produksi. Kondisi tersebut menuntut pembudidaya untuk terus mencari cara agar usaha tetap efisien tanpa mengabaikan kesehatan dan pertumbuhan ikan.
“Melalui inovasi teknologi tepat guna berbasis bahan herbal lokal dan probiotik, kita dapat mengupayakan efisiensi penggunaan pakan komersial sekaligus mendukung kesehatan dan pertumbuhan ikan secara optimal,” ujar Sofian saat membuka kegiatan.
Ia menjelaskan, pemanfaatan probiotik herbal berpotensi membantu mengoptimalkan pemanfaatan nutrisi pakan, memperbaiki nilai Feed Conversion Ratio (FCR), serta mendukung daya tahan ikan terhadap penyakit. Penerapannya juga perlu disertai manajemen kualitas air yang baik agar kondisi kolam tetap mendukung pertumbuhan ikan.
Dalam kegiatan tersebut, tim dosen FPK Universitas PGRI Palembang memberikan materi secara komprehensif, mulai dari pemanfaatan bahan herbal lokal, mekanisme kerja probiotik, manajemen pakan, kesehatan ikan, hingga pengelolaan kualitas air dan strategi pemasaran hasil panen.
Sofian, S.Pi., M.Si., menyampaikan materi mengenai potensi bahan herbal lokal dan pembuatan probiotik mandiri. Peserta diperkenalkan dengan pemanfaatan tanaman herbal seperti kunyit, temulawak, dan bawang putih, termasuk tahapan formulasi serta proses fermentasi yang perlu diperhatikan.
Selanjutnya, Dr. Indah Anggraini Yusanti, S.Si., M.Si., memaparkan biologi dan mekanisme kerja probiotik pada ikan, khususnya peran bakteri menguntungkan dalam mendukung proses pencernaan dan pemanfaatan nutrisi.

Dr. Lia Perwita Sari, S.P., M.Si., memberikan pembekalan mengenai analisis usaha budidaya ikan lele, termasuk perhitungan keuangan, FCR, dan kelayakan usaha. Sementara itu, Rahma Mulyani, S.Pi., M.Si., membahas manajemen kesehatan ikan dan pencegahan patogen melalui penerapan langkah pencegahan penyakit serta biosekuriti kolam.
Materi manajemen pakan alami dan buatan disampaikan Sujaka Nugraha, S.Pi., M.Si., yang mengulas pemenuhan kebutuhan nutrisi serta efisiensi pemberian pakan harian. Adapun strategi pemasaran ikan lele, perluasan pasar, dan distribusi hasil panen dibahas oleh Yedi Wihardi, S.Pi., M.Si.
Dari sisi penguatan kelembagaan, Rr. Dyah Paramitha Mentari, S.St.Pi., M.Pi., menyampaikan materi mengenai strategi keberlanjutan dan kelembagaan kelompok pembudidaya. Sementara itu, Helfa Septinar, S.Pd., M.Si., memberikan pemahaman tentang manajemen kualitas air kolam, termasuk parameter fisika dan kimia perairan yang perlu dipantau untuk mencegah stres pada ikan.
Tidak hanya mendapatkan pembekalan teori, para peserta juga mengikuti demonstrasi langsung pembuatan probiotik herbal. Dalam praktik tersebut, peserta diperkenalkan dengan tahapan penakaran ekstrak bahan herbal, pencampuran media fermentasi, hingga teknik aplikasi larutan pada pakan komersial menggunakan metode penyemprotan (spray) secara higienis dan terukur.
Tim PkM turut menyerahkan bahan baku secara simbolis untuk mendukung produksi probiotik herbal secara mandiri. Langkah ini diharapkan menjadi bekal awal bagi kelompok pembudidaya untuk mempelajari dan mengembangkan penerapan teknologi tersebut sesuai kebutuhan usaha mereka.
Ketua UPR Mutiara Sematang Borang, Suwarjo, menyambut baik kegiatan pendampingan yang dilaksanakan FPK Universitas PGRI Palembang. Menurutnya, pelatihan tersebut memberikan wawasan baru sekaligus keterampilan praktis yang relevan dengan tantangan yang dihadapi pembudidaya, terutama terkait biaya pakan.
“Kami sangat terbantu dengan adanya pelatihan ini. Selama ini kenaikan harga pakan menjadi kendala utama kami. Dengan adanya teknologi probiotik herbal mandiri ini, harapan kami bisa menghemat pengeluaran pakan tanpa menurunkan kualitas dan pertumbuhan ikan,” ungkap Suwarjo.
Selain memberikan pengetahuan teknis, kegiatan ini juga mendorong pembudidaya memahami bahwa keberhasilan usaha perikanan tidak hanya bergantung pada ketersediaan pakan. Manajemen kesehatan ikan, kualitas air, pencatatan biaya produksi, serta strategi pemasaran turut menentukan keberlanjutan usaha.
Melalui kegiatan PkM ini, FPK Universitas PGRI Palembang menegaskan komitmennya dalam menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Pendampingan tersebut diharapkan dapat mendorong pembudidaya ikan di Sematang Borang untuk semakin mandiri dalam mengembangkan inovasi budidaya, meningkatkan efisiensi usaha, serta menjaga produktivitas perikanan air tawar secara berkelanjutan di Kota Palembang dan Sumatera Selatan.













