Ekobis

APBN Sumsel Menguat di Awal 2026, Pendapatan dan Belanja Tumbuh Positif

×

APBN Sumsel Menguat di Awal 2026, Pendapatan dan Belanja Tumbuh Positif

Sebarkan artikel ini
(Jembatan Ampera Palembang)

SumselMedia.Com, Palembang-

Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di wilayah Provinsi Sumatera Selatan hingga 28 Februari 2026 menunjukkan tren penguatan yang berkelanjutan.

Pendapatan negara dan belanja negara tercatat tumbuh positif, di tengah stabilitas ekonomi daerah yang tetap terjaga meski menghadapi dinamika global dan fluktuasi harga komoditas.

Ketua Kelompok Kerja Teknis Kerja Sama, Kehumasan, dan Layanan Publik Sekretariat Bersama Kementerian Keuangan Provinsi Sumatera Selatan dari Balai Pendidikan dan Pelatihan Keuangan Palembang, Agung Heru Pranyoto, menyampaikan bahwa capaian ini tidak lepas dari sinergi kuat antara unit vertikal Kementerian Keuangan dan pemerintah daerah.

“Kinerja APBN di Sumatera Selatan hingga awal tahun 2026 menunjukkan arah yang positif. Ini mencerminkan sinergi yang solid antara pemerintah pusat dan daerah dalam menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan,” ujar Agung, Sabtu (28/3/2026)

Pendapatan Negara Tumbuh Positif

Dari sisi pendapatan, realisasi mencapai Rp2,16 triliun atau 10,20 persen dari target. Penerimaan perpajakan menjadi kontributor utama sebesar Rp1,62 triliun atau 9,57 persen dari target, tumbuh sekitar 7,9 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan setoran Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21, seiring dengan aktivitas ekonomi sektor unggulan seperti sawit dan karet, serta implementasi sistem coretax.

Sementara itu, penerimaan kepabeanan dan cukai tercatat Rp38,81 miliar atau 2,23 persen dari target. Capaian ini masih mengalami tekanan, terutama pada bea keluar akibat melemahnya kinerja ekspor komoditas. Meski demikian, pengawasan tetap berjalan optimal dengan 54 penindakan yang berhasil mengamankan potensi kerugian negara sekitar Rp3,8 miliar.

Adapun Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencapai Rp497,35 miliar atau 20,12 persen dari target. Capaian ini didukung peningkatan layanan Badan Layanan Umum (BLU) seperti sektor kesehatan dan pendidikan.

“Optimalisasi penerimaan terus kami dorong, baik dari sisi pajak, kepabeanan, maupun PNBP, termasuk melalui pemanfaatan aset negara dan peningkatan layanan publik,” tambah Agung.

Belanja Negara Meningkat

Dari sisi belanja negara, realisasi mencapai Rp6,31 triliun atau 16,78 persen dari pagu, tumbuh sekitar 5,18 persen (yoy).

Belanja Pemerintah Pusat terealisasi Rp1,48 triliun atau 10,19 persen dari pagu, meningkat signifikan didorong oleh kenaikan belanja pegawai, belanja barang, serta lonjakan belanja modal akibat low base effect.

Sementara itu, Transfer ke Daerah (TKD) mencapai Rp4,83 triliun atau 20,95 persen dari pagu, tumbuh 0,52 persen (yoy). TKD tetap menjadi instrumen penting dalam mendukung layanan dasar di daerah, terutama melalui Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) Non Fisik.

APBD Masih Perlu Didorong

Di sisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), kinerja keuangan daerah hingga Februari 2026 masih menunjukkan perlambatan. Pendapatan daerah tercatat Rp2,65 triliun atau 7,08 persen, sedangkan belanja daerah Rp1,81 triliun atau 4,60 persen.

Kondisi ini mencerminkan perlunya percepatan realisasi belanja daerah guna mendorong aktivitas ekonomi.
“Percepatan belanja daerah menjadi kunci untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, terutama di awal tahun,” jelas Agung.

Surplus Perdagangan dan Stabilitas Terjaga

Dari sisi eksternal, neraca perdagangan Sumatera Selatan mencatat surplus sebesar USD576,54 juta. Namun demikian, angka ini terkontraksi sekitar 50,01 persen (yoy) akibat penurunan ekspor komoditas utama seperti batubara, karet, dan pulp.

Sementara impor tercatat USD212,79 juta, didominasi oleh mesin dan bahan baku, serta masih menunjukkan pertumbuhan positif secara tahunan.
Di sisi kesejahteraan, kondisi ekonomi masyarakat relatif terjaga. Inflasi Februari 2026 tercatat sebesar 4,36 persen (yoy), dipengaruhi kenaikan harga emas, listrik, dan bahan pangan.

Meski demikian, Indeks Keyakinan Konsumen tetap berada pada level optimis di angka 128,72. Aktivitas konsumsi, produksi, dan investasi juga menunjukkan penguatan di awal tahun.

Indikator kesejahteraan turut membaik, tercermin dari penurunan tingkat kemiskinan dan pengangguran, serta membaiknya distribusi pendapatan dengan Gini Ratio di angka 0,298.

Sinergi Jadi Kunci

Secara keseluruhan, kinerja APBN Sumatera Selatan hingga Februari 2026 menunjukkan tren yang positif dan stabil. Pertumbuhan pendapatan negara, akselerasi belanja, serta penguatan pengawasan dan optimalisasi aset menjadi fondasi utama dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah.

“Ke depan, sinergi antara pemerintah pusat dan daerah akan terus diperkuat untuk menghadapi tantangan global sekaligus menjaga momentum pembangunan di Sumatera Selatan,” tutup Agung.