Olahraga

Bertarung dari Pagi hingga Malam, Gojukai Sumsel Buktikan Mental Juara di Piala Jaksa Agung RI Jakarta

×

Bertarung dari Pagi hingga Malam, Gojukai Sumsel Buktikan Mental Juara di Piala Jaksa Agung RI Jakarta

Sebarkan artikel ini
(Foto bersama Kontingen Gojukai Sumsel usai penyerahan piala juara umum 3 Piala Jaksa Agung RI di GOR Ciracas)

SumselMedia.Com, Palembang-

Tatami di GOR Ciracas, Jakarta Timur, menjadi saksi bagaimana para karateka Gojukai Sumatera Selatan (Sumsel) menguras tenaga, pikiran dan mental demi satu tujuan: membawa nama Sumatera Selatan berdiri di podium Kejurnas Gojukai Piala Jaksa Agung RI 2026.

Sejak pagi hingga malam, para atlet harus terus bertarung menghadapi lawan-lawannya. Satu pertandingan selesai, belum tentu perjuangan berakhir. Masih ada babak berikutnya yang menanti. Belum lagi konsep venue yang harus naik turun tangga setinggi enam lantai. Begitu seterusnya hingga tenaga terkuras dan tubuh mulai menuntut istirahat.

Namun, menyerah bukan pilihan.

Di tengah kerasnya persaingan, kontingen Gojukai Sumsel justru menunjukkan mental juara. Hasilnya pun melampaui ekspektasi. Dari Kejurnas yang berlangsung 25–27 Agustus 2026 tersebut, Sumsel berhasil merebut Juara Umum III, dengan koleksi 39 medali, terdiri dari 11 emas, 9 perak dan 19 perunggu.

Capaian itu terasa semakin istimewa jika melihat bagaimana perjalanan kontingen Sumsel menuju Jakarta.

Para atlet hanya memiliki waktu tiga hari menjalani Training Camp (TC) sebelum keberangkatan. Waktu yang sangat singkat untuk mempersiapkan fisik, teknik sekaligus mental menghadapi kejuaraan nasional dengan persaingan yang begitu ketat.

Ketua Umum Gojukai Pengda Sumsel Dr. Mhd. Fatria, MH melalui Ketua Harian H. Hidayat Comsu, SE, didampingi Sekretaris Umum Renshi Shihan Husni Yusuf, SH., M.Si, mengatakan capaian tersebut menjadi gambaran betapa kuatnya semangat para atlet untuk memberikan yang terbaik bagi Sumsel.

“Dengan persiapan yang sangat singkat, hanya tiga hari TC sebelum keberangkatan, anak-anak mampu memberikan hasil yang luar biasa. Target internal pelatih sebenarnya 10 emas, tetapi ternyata bisa kita lampaui dengan meraih 11 emas,” ujar Hidayat.

Bagi H Hidayat Comsu, angka 11 emas bukan sekadar angka dalam tabel klasemen. Di baliknya terdapat keringat, kelelahan dan perjuangan para atlet yang harus bertanding dalam kondisi fisik yang terus terkuras.

Pertandingan yang berlangsung sejak pagi hingga malam membuat atlet tidak hanya dituntut memiliki kemampuan teknik, tetapi juga kemampuan menjaga konsentrasi dan daya tahan mental.

“Pertandingan berlangsung dari pagi sampai malam. Ini tidak hanya menguras fisik, tetapi juga mental. Dalam kondisi seperti itu, atlet kita mampu tetap fokus dan menjaga semangat sampai pertandingan selesai,” katanya.

Tekanan semakin terasa karena Sumsel harus berhadapan dengan kontingen-kontingen kuat dari berbagai daerah di Indonesia. Bahkan, sejumlah daerah yang selama ini dikenal memiliki tradisi kuat dalam karate harus mereka hadapi di atas tatami.

Di sinilah mental para atlet diuji.

Setiap kali memasuki arena, mereka harus mampu meninggalkan rasa lelah dari pertandingan sebelumnya. Tidak ada waktu panjang untuk larut dalam kemenangan ataupun kekecewaan. Fokus harus kembali dibangun untuk menghadapi pertarungan berikutnya.

Dan para karateka Sumsel mampu melewati fase itu.

Sekretaris Umum Gojukai Pengda Sumsel Renshi Shihan Husni Yusuf, SH., M.Si mengatakan, persaingan pada Kejurnas Piala Jaksa Agung RI berlangsung sangat ketat.

Dari klasemen akhir, Sulawesi Selatan keluar sebagai Juara Umum I dengan raihan 44 emas, 30 perak dan 40 perunggu. Sementara DKI Jakarta berada di posisi kedua dengan 12 emas, 16 perak dan 40 perunggu.

Sumsel kemudian mengamankan posisi ketiga dengan 11 emas, 9 perak dan 19 perunggu.

“Persaingannya sangat ketat. DKI Jakarta hanya unggul satu emas dari Sumsel. Artinya, anak-anak kita benar-benar mampu bersaing dengan daerah-daerah yang memiliki kekuatan besar,” jelas Husni.

Menurutnya, capaian 39 medali tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa kualitas atlet Gojukai Sumsel memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan.

Apalagi, hasil tersebut dicapai dalam kondisi persiapan yang relatif singkat. Dengan waktu TC yang hanya tiga hari, para atlet dituntut langsung berada dalam kondisi siap bertanding ketika memasuki arena Kejurnas.

“Bukan hanya teknik yang dibutuhkan. Dalam kejuaraan seperti ini, fisik dan mental sangat menentukan. Atlet harus mampu menjaga konsentrasi ketika pertandingan berlangsung panjang dari pagi sampai malam,” ungkapnya.

Bagi Gojukai Sumsel, podium Juara Umum III bukanlah garis akhir. Justru capaian tersebut menjadi pijakan untuk melihat sejauh mana potensi yang masih dapat dikembangkan.

Target 10 emas yang ditetapkan internal pelatih telah dilewati. Sebanyak 11 emas berhasil dibawa pulang, ditambah 9 perak dan 19 perunggu.

Ada satu pesan penting yang tersisa dari perjuangan di GOR Ciracas: persiapan boleh singkat, tetapi mental juara tidak boleh ikut terbatas.

Para karateka Sumsel telah membuktikannya di atas tatami.

Setelah tiga hari bertarung dengan tenaga dan mental yang terkuras, perjuangan kontingen pun berakhir dengan senyum. Bukan karena semua pertandingan dimenangkan, tetapi karena mereka telah memberikan seluruh kemampuan yang dimiliki.

Pagi ini, Jumat (28/8/2026), kontingen Gojukai Sumsel dijadwalkan meninggalkan Jakarta dan kembali ke Palembang menggunakan armada bus.

Mereka pulang membawa 39 medali dan predikat Juara Umum III.

Namun lebih dari sekadar medali, mereka membawa sebuah cerita dari GOR Ciracas—tentang perjuangan, kelelahan, tekanan dan keberanian untuk terus berdiri setiap kali kembali dipanggil memasuki tatami.

Sebuah cerita tentang bagaimana mental juara lahir bukan ketika pertandingan terasa mudah, melainkan ketika tubuh mulai lelah dan tekanan semakin berat, tetapi seorang atlet memilih untuk tetap bertarung.