Ekobis

Dari Bumi Sriwijaya untuk Indonesia: Ketika QRIS Menjadi Katalis Kemandirian dan Inklusi Ekonomi bagi Penyandang Tunanetra

×

Dari Bumi Sriwijaya untuk Indonesia: Ketika QRIS Menjadi Katalis Kemandirian dan Inklusi Ekonomi bagi Penyandang Tunanetra

Sebarkan artikel ini
(Pelanggan melakukan pembayaran menggunakan QRIS setelah memanfaatkan layanan pijat dari terapis penyandang tunanetra di Klinik Pijat Urut Tuna Netra Pertuni Jaya, Palembang)

SumselMedia.Com, Palembang-

Suara notifikasi dari sebuah telepon genggam memecah kesunyian siang di Klinik Pijat Urut Tunanetra Pertuni Jaya, Kampung Tunanetra di Bumi Sriwijaya. Bagi sebagian orang, bunyi itu mungkin hanya menandakan transaksi berhasil.

Namun bagi Pendi, seorang terapis tunanetra, suara tersebut adalah pertanda bahwa pekerjaannya telah dihargai, pelanggannya telah membayar, dan ada penghasilan yang akan dibawa pulang untuk keluarganya.

Pendi tidak pernah melihat bentuk kode Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) yang terpajang di meja kasir. Ia juga tidak menyaksikan pelanggan memindainya menggunakan telepon genggam. Namun, dari bunyi notifikasi yang terdengar setiap kali transaksi masuk, ia mengetahui bahwa teknologi digital telah membuka jalan baru bagi kemandiriannya.

Di tengah derasnya arus digitalisasi sistem pembayaran di Indonesia, kisah Pendi menjadi gambaran nyata bahwa transformasi teknologi bukan hanya soal kecepatan transaksi atau pertumbuhan ekonomi. QRIS hadir sebagai katalis yang mempercepat lahirnya kesempatan ekonomi, memperluas akses usaha, dan menghadirkan kemandirian bagi kelompok masyarakat yang selama ini berada di pinggir arus pembangunan.

Di Kampung Tunanetra, Kelurahan 8 Ilir, Kecamatan Ilir Timur III Palembang, QRIS bukan sekadar alat pembayaran modern. Ia telah menjadi jembatan yang menghubungkan penyandang disabilitas dengan pelanggan, memperluas akses usaha, sekaligus membuktikan bahwa ekonomi digital dapat tumbuh secara inklusif tanpa meninggalkan siapa pun.

(Pelanggan melakukan pembayaran menggunakan QRIS setelah memanfaatkan layanan pijat dari terapis penyandang tunanetra di Klinik Pijat Urut Tuna Netra Pertuni Jaya, Palembang)

Makna itu semakin terasa, ketika transaksi QRIS di Sumatera Selatan terus menunjukkan pertumbuhan signifikan. Berdasarkan data dari Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan hingga Mei 2026, nilai transaksi QRIS di provinsi ini telah menembus Rp14 triliun.

Di balik angka yang besar tersebut, QRIS tidak hanya mencerminkan peningkatan transaksi digital, tetapi juga berperan sebagai katalis perubahan sosial-ekonomi. Di dalamnya tersimpan kisah-kisah kecil tentang bagaimana teknologi mempercepat terbukanya akses usaha bagi masyarakat, termasuk puluhan penyandang tunanetra yang menggantungkan hidup dari jasa pijat di Kampung Tunanetra.

“Ini periuk nasi kami. Mau tidak mau Klinik Pijat ini harus terus berkembang dan beradaptasi untuk melayani pelanggan, termasuk mengikuti perkembangan zaman sekarang yang menggunakan QRIS untuk membayar,” tutur Pendi kepada SumselMedia.com, Rabu (25/6/2026).

Di balik satu kali pemindaian QRIS, ada pekerjaan yang tetap terjaga, ada keluarga yang terus dinafkahi, dan ada harapan agar usaha yang telah bertahan hampir empat dekade itu, tetap relevan di tengah perubahan zaman.

(Suasana antrean pelanggan di Klinik Pijat Urut Tuna Netra Pertuni Jaya, Palembang, yang melayani masyarakat dengan terapis penyandang tunanetra)

QRIS Menjawab Kebutuhan dan Menjaga Mata Pencaharian

Ketua Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Sumatera Selatan, Iwan Susanto, mengatakan adopsi QRIS berawal dari kebutuhan pelanggan yang semakin terbiasa bertransaksi secara digital.

“Banyak pelanggan yang lupa membawa uang tunai, tetapi kalau HP biasanya jarang tertinggal. Dulu ada pelanggan yang harus pergi ke ATM terlebih dahulu untuk membayar. Sejak mengetahui ada QRIS, kami langsung menyediakannya,” urainya.

Dikatakan Iwan, Klinik Pijat Urut Tunanetra Pertuni Jaya ini merupakan program usaha milik Pertuni Sumatera Selatan yang mulai menerapkan layanan QRIS sejak 2025. Dalam satu tahun, porsi transaksi digital meningkat dari sekitar 10 persen menjadi 30 persen dari total pembayaran.

Saat ini, terdapat 53 terapis tunanetra yang tinggal di kawasan Kampung Tunanetra dan menggantungkan hidup dari profesi tersebut. Mereka bekerja secara bergiliran untuk melayani pelanggan setiap hari, mulai pukul 08.00 hingga 22.00 WIB.

Rendi, salah satu pelanggan Pijat Urut sangat apresiasi dengan perkembangan klinik tersebut. Ia juga turut senang, jika klinik itu berkembang cepat melalui berbagai layanan yang membuat pelanggan lebih nyaman. “Saya sudah sejak 2015 jadi pelanggan disana bersama keluarga, mereka itu terapis bersertifikasi, tidak heran dengan didukung pelayanan digitalisasi sistem pembayaran QRIS ini bisa mendukung perekonomian mereka,” terangnya.

(Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan, Bambang Pramono)

Ketika Data Pertumbuhan Bertemu Inklusi Ekonomi

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan, Bambang Pramono, mengatakan bahwa pertumbuhan transaksi QRIS menunjukkan pembayaran digital semakin menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat. Hingga Mei 2026, jumlah merchant QRIS di Sumatera Selatan telah menembus 1,23 juta merchant, dengan jumlah pengguna mencapai 1,57 juta orang per April 2026.

Di tengah pertumbuhan tersebut, Klinik Pijat Urut Tunanetra Pertuni Jaya menjadi salah satu contoh bagaimana digitalisasi pembayaran mampu menjangkau kelompok disabilitas, membuka akses ekonomi yang lebih luas, serta memperkuat kemandirian para penyandang tunanetra dalam menjalankan usaha dan profesinya.

“Keberhasilan digitalisasi sistem pembayaran sesungguhnya tercermin ketika teknologi mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelompok disabilitas. Apa yang terjadi di Klinik Pijat Urut Tunanetra Pertuni Jaya menunjukkan bahwa pembayaran digital dapat menjadi sarana untuk mendorong kemandirian dan inklusi ekonomi,” ungkap Bambang.

Bagi penyandang tunanetra, QRIS juga membantu mengurangi kendala dalam transaksi tunai, seperti memeriksa nominal uang, menghitung kembalian, hingga menghindari risiko menerima uang palsu. Melalui pencatatan digital dan notifikasi suara transaksi, teknologi pembayaran ini, turut mendukung kemandirian pelaku usaha tunanetra dalam menjalankan usahanya.

(Kepala Badan Pusat Statistik Sumatera Selatan, M. Wahyu Yulianto)

Kepala Badan Pusat Statistik Sumatera Selatan, M. Wahyu Yulianto, mengatakan kesiapan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi digital terus meningkat. Hal itu tercermin dari Indeks Pembangunan Teknologi Informasi dan Komunikasi (IP-TIK) Sumatera Selatan yang naik dari 5,88 pada 2023 menjadi 5,97 pada 2024.

Peningkatan tersebut sejalan dengan semakin tingginya keterampilan digital masyarakat. Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), proporsi remaja dan dewasa yang memiliki keterampilan Teknologi Informasi dan Komputer (TIK) mencapai 84,43 persen pada 2025, meningkat dari 77,56 persen pada tahun sebelumnya.

Menurut Wahyu, perkembangan itu menjadi fondasi penting bagi perluasan ekosistem ekonomi digital di Sumatera Selatan. Semakin tinggi literasi dan keterampilan digital masyarakat, semakin besar pula peluang pemanfaatan teknologi dalam aktivitas ekonomi sehari-hari, termasuk sistem pembayaran digital.

Fenomena penggunaan QRIS di Klinik Pijat Urut Tunanetra Pertuni Jaya, lanjutnya, menunjukkan bahwa transformasi digital tidak hanya dinikmati oleh usaha besar atau sektor modern, tetapi juga mampu menjangkau kelompok rentan dan usaha berbasis komunitas.

“Digitalisasi akan dinilai berhasil ketika manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Penggunaan QRIS oleh para terapis tunanetra menunjukkan bahwa teknologi pembayaran digital dapat mendorong efisiensi usaha, memperluas akses ekonomi, sekaligus memperkuat inklusi keuangan dan pada gilirannya mendukung pembangunan di Sumatera Selatan,” urainya.

(Kepala OJK Provinsi Sumatera Selatan, Arifin Susanto)

Kepala OJK Provinsi Sumatera Selatan, Arifin Susanto, menilai digitalisasi layanan keuangan berperan penting dalam memperluas inklusi keuangan bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas.

Menurutnya, kemudahan akses layanan dan sistem pembayaran digital memberikan kesempatan yang sama bagi kelompok disabilitas untuk berpartisipasi dalam aktivitas ekonomi. Hal itu tercermin dari semakin ramainya Klinik Pijat Pertuni Jaya di Kampung Tuna Netra Palembang setelah memanfaatkan pembayaran QRIS.

“Digitalisasi keuangan bukan hanya soal kemudahan transaksi, tetapi juga membuka akses ekonomi yang lebih luas dan mendorong kemandirian masyarakat. Karena itu, peningkatan inklusi keuangan harus diiringi dengan penguatan literasi keuangan digital agar masyarakat dapat memanfaatkan layanan keuangan secara aman dan produktif,” ujarnya.

(Pengamat ekonomi sekaligus akademisi, Prof. Dr. Sri Rahayu, S.E., M.M)

Dari Notifikasi Suara Menuju Kemandirian

Pengamat ekonomi sekaligus akademisi, Prof. Dr. Sri Rahayu, S.E., M.M., menilai pemanfaatan QRIS di Klinik Pijat Urut Tuna Netra Pertuni Jaya merupakan contoh nyata bagaimana transformasi digital mampu menghadirkan manfaat langsung bagi kelompok masyarakat yang selama ini menghadapi keterbatasan akses ekonomi dan keuangan.

Menurutnya, digitalisasi yang berhasil bukan hanya ditandai oleh tingginya angka transaksi, tetapi juga sejauh mana teknologi mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas.

“Ketika pelaku usaha tunanetra tetap dapat melayani pelanggan yang semakin terbiasa bertransaksi secara digital, maka teknologi telah menjalankan fungsi ekonomi dan fungsi sosialnya secara bersamaan,” ujarnya.
Sri Rahayu menjelaskan, keberhasilan QRIS di Sumatera Selatan tidak hanya tercermin dari nilai transaksi yang mencapai Rp14 triliun hingga Mei 2026 atau dari 1,23 juta merchant dan 1,57 juta pengguna yang telah memanfaatkan sistem pembayaran digital tersebut. Keberhasilan yang sesungguhnya terlihat ketika teknologi mampu menjangkau masyarakat yang sebelumnya memiliki keterbatasan akses, termasuk penyandang disabilitas.

Dalam konteks itulah, QRIS berfungsi sebagai katalis pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Teknologi pembayaran digital tidak sekadar mempermudah transaksi, tetapi mempercepat terciptanya kesempatan ekonomi yang lebih merata bagi seluruh lapisan masyarakat.

Di Kampung Tunanetra Palembang, keberhasilan itu hadir dalam bentuk yang sederhana. Ketika pelanggan cukup memindai QRIS untuk membayar jasa pijat, para terapis tunanetra dapat bekerja lebih mandiri tanpa harus khawatir menghitung uang tunai atau memberikan kembalian. Kemudahan tersebut membuat pelayanan menjadi lebih cepat, pelanggan semakin nyaman, dan peluang usaha semakin terbuka.

Bagi Pendi dan puluhan terapis tunanetra lainnya, QRIS mungkin hanya terdengar sebagai bunyi notifikasi dari sebuah telepon genggam. Namun dari suara sederhana itu mengalir penghasilan untuk keluarga, kesempatan untuk terus bekerja, dan harapan agar mereka tetap menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.

Di tengah derasnya transformasi digital, Kampung Tunanetra di Bumi Sriwijaya membuktikan bahwa teknologi terbaik bukanlah teknologi yang paling canggih, melainkan teknologi yang mampu menjangkau semua orang. Dari bunyi notifikasi sederhana yang didengar Pendi hingga transaksi digital senilai Rp14 triliun di Sumatera Selatan, QRIS telah menunjukkan perannya sebagai katalis pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Dari sebuah kampung kecil di sudut Kota Palembang, lahir pelajaran bahwa pertumbuhan ekonomi yang inklusif tidak selalu dimulai dari kebijakan besar, melainkan dari teknologi yang mampu membuka kesempatan bagi semua orang. Ketika bunyi notifikasi QRIS dapat menjaga penghidupan seorang terapis tunanetra, saat itulah digitalisasi pembayaran membuktikan perannya sebagai katalis yang menghadirkan kesempatan, memperkuat kemandirian, dan memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal dalam arus pertumbuhan ekonomi. (Sugiarto)