Ekobis

Dengung Kecil dari Desa Menggema ke Dunia: Beeyond Honey PHE Jambi Merang Raih Penghargaan Internasional

×

Dengung Kecil dari Desa Menggema ke Dunia: Beeyond Honey PHE Jambi Merang Raih Penghargaan Internasional

Sebarkan artikel ini
(Program ini tidak hanya menghadirkan manfaat, tetapi juga menumbuhkan peran baru di tengah masyarakat. Dari pengelolaan madu hingga edukasi penyerbuk di sekolah, keberlanjutan kini bergerak dari kesadaran kolektif yang tumbuh bersama)

SumselMedia.Com, Jambi-

Pagi di Desa Suka Maju, Tanjung Jabung Timur, selalu datang dengan cara yang nyaris sama, sunyi, lembap, dan perlahan hidup. Dari balik rimbun vegetasi yang mulai pulih, terdengar dengung halus, tipis, nyaris tak mengganggu.

Namun bagi sebagian orang di desa itu, suara lebah bukan lagi sekadar bunyi alam. Ia adalah tanda bahwa kehidupan masih bertahan.

Di sinilah cerita Beeyond Honey bermula. Sebuah inisiatif dari PT Pertamina Hulu Energi Jambi Merang, bagian dari PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 1, mengubah sesuatu yang nyaris tak terdengar menjadi gerakan yang kini bergema hingga panggung dunia.

Pengakuan itu datang pada 23 April 2026 di Bangkok, Thailand, dalam ajang 18th Annual Global CSR & ESG Awards. Beeyond Honey dianugerahi Silver Award untuk kategori Best Community Program.

(Program ini tidak hanya menghadirkan manfaat, tetapi juga menumbuhkan peran baru di tengah masyarakat. Dari pengelolaan madu hingga edukasi penyerbuk di sekolah, keberlanjutan kini bergerak dari kesadaran kolektif yang tumbuh bersama)

Namun penghargaan itu bagi warga Suka Maju hanyalah gema dari sesuatu yang telah lama mereka bangun. Perlahan, diam-diam, dan nyaris tanpa sorotan.

Satu dekade terakhir bukan waktu yang mudah bagi alam Jambi. Populasi lebah menurun hingga seperempatnya. Hutan, yang dulu menjadi penyangga kehidupan, terus menyusut. Dalam lanskap yang berubah itu, lebah, makhluk kecil yang sering diabaikan justru menjadi penanda paling jujur tentang kondisi lingkungan.

Ketika lebah pergi, ada yang salah. Ketika mereka kembali, ada harapan. Beeyond Honey bekerja dari pemahaman sederhana itu.

Di desa ini, sekitar 160 kotak lebah ditempatkan, sebagian besar di wilayah rawan kebakaran hutan dan lahan. Lebah tidak hanya dipelihara sebagai penghasil madu, tetapi sebagai penjaga diam-diam ekosistem.

(Program ini tidak hanya menghadirkan manfaat, tetapi juga menumbuhkan peran baru di tengah masyarakat. Dari pengelolaan madu hingga edukasi penyerbuk di sekolah, keberlanjutan kini bergerak dari kesadaran kolektif yang tumbuh bersama)

Mereka menjadi bio indikator alami. Jika lebah bertahan, lingkungan masih cukup sehat untuk kehidupan lain. Jika mereka menghilang, alam sedang memberi peringatan.

Dari 15 orang anggota kelompok, aktivitas yang awalnya sederhana, kini tumbuh menjadi sumber penghidupan. Produksi madu mencapai 150 hingga 250 kilogram setiap bulan. Angka yang di atas kertas mencerminkan keberhasilan ekonomi.

Namun di lapangan, ia berarti sesuatu yang lebih dalam. Keberhasilan menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

Perubahan itu tidak berhenti di kotak-kotak lebah. Di sekitar desa, lebih dari 2.000 tanaman buah dan bunga ditanam kembali. Lanskap yang sempat terdegradasi, perlahan mendapatkan warnanya lagi. Bukan hanya sebagai sumber pakan lebah, tetapi sebagai fondasi baru bagi ketahanan lingkungan.

(Program ini tidak hanya menghadirkan manfaat, tetapi juga menumbuhkan peran baru di tengah masyarakat. Dari pengelolaan madu hingga edukasi penyerbuk di sekolah, keberlanjutan kini bergerak dari kesadaran kolektif yang tumbuh bersama)

Masyarakat berubah peran. Bukan lagi penerima manfaat, melainkan penggerak utama. Dari mengelola koperasi madu, terlibat dalam mitigasi kebakaran, hingga menyebarkan pengetahuan tentang pentingnya penyerbuk. Kesadaran tumbuh, bukan karena dipaksa, tetapi karena dialami.

Cerita itu kemudian menjalar ke ruang yang lebih luas. Di sekolah-sekolah, anak-anak mulai belajar bahwa lebah bukan sekadar serangga, melainkan bagian penting dari rantai kehidupan.

Di ruang publik seperti Taman Rimbo, masyarakat dikenalkan pada peran penyerbuk melalui pojok edukasi. Bahkan limbah sarang lebah diolah menjadi lilin batik alami, sebuah jembatan kecil antara konservasi dan budaya.

Beeyond Honey berkembang menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar program. Ia menjadi ekosistem, tempat konservasi, edukasi, ekonomi, dan mitigasi bencana bertemu dan saling menguatkan.

Bagi Iwan Ridwan Faizal, Manager Community Involvement & Development (CID) Regional 1, penghargaan internasional itu bukan garis akhir. Menurutnya, penghargaan bukan hanya milik perusahaan, tetapi milik masyarakat Desa Suka Maju yang telah menjadi garda terdepan dalam menjaga lingkungan.

Beeyond Honey membuktikan bahwa ketika masyarakat diberdayakan dan alam dijaga, keduanya bisa tumbuh bersama,” kata Iwan.

Pada akhirnya, kisah Beeyond Honey tidak berbicara tentang madu semata. Ia adalah cerita tentang hubungan antara manusia dan alam, antara krisis dan harapan, antara sesuatu yang kecil dan dampak yang besar.

Di Desa Suka Maju, perubahan tidak datang dengan suara keras. Ia datang sebagai dengung kecil di pagi hari yang ketika didengar dengan sungguh-sungguh, mampu membawa pesan hingga ke panggung dunia. (Adv)