SumselMedia.Com, Palembang-
Perekonomian Sumatra Selatan menunjukkan kinerja impresif di tengah dinamika global. Pada triwulan I 2026, ekonomi Sumsel tumbuh sebesar 5,34 persen (year-on-year/yoy), menjadikannya sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi ketiga di wilayah Sumatera.
Capaian tersebut juga melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi Sumatera yang sebesar 5,13 persen (yoy), meskipun masih sedikit di bawah pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat 5,61 persen (yoy).
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatra Selatan, Bambang Pramono, menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi daerah ditopang oleh konsumsi rumah tangga serta kinerja positif industri pengolahan.
“Peningkatan konsumsi masyarakat, khususnya saat momentum Hari Besar Keagamaan Nasional seperti Imlek, Ramadan, dan Idulfitri, menjadi pendorong utama. Industri pengolahan juga memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Sumsel,” ujar Bambang.
Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi didukung oleh konsumsi rumah tangga sebesar 2,95 persen, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi sebesar 1,27 persen, serta konsumsi pemerintah sebesar 0,70 persen.
Meningkatnya mobilitas masyarakat selama periode HBKN turut mendorong aktivitas perdagangan dan konsumsi. Di sisi lain, kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) tahun 2026 juga memperkuat daya beli masyarakat.
Dari sisi investasi, berbagai proyek strategis terus berjalan dan menjadi katalis pertumbuhan ekonomi daerah. Pembangunan infrastruktur seperti pabrik, flyover, underpass, jalan tol, hingga pengembangan Pelabuhan Tanjung Carat mendorong peningkatan aktivitas ekonomi, yang tercermin dari naiknya permintaan dan penjualan semen di Sumatera Selatan.
Selain itu, konsumsi pemerintah juga meningkat seiring penambahan 5.990 PPPK paruh waktu yang turut mendorong belanja daerah.
Berdasarkan lapangan usaha, industri pengolahan menjadi sektor dengan kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi, yakni sebesar 1,29 persen, didorong oleh peningkatan produksi crude palm oil (CPO) serta industri pulp and paper.
Sektor perdagangan besar dan eceran juga mencatatkan kinerja positif dengan andil sebesar 1,19 persen seiring meningkatnya aktivitas masyarakat. Sementara sektor konstruksi tetap tumbuh kuat dengan kontribusi sebesar 0,64 persen, didukung berlanjutnya berbagai proyek pembangunan.
Ke depan, Bambang Pramono optimistis ekonomi Sumsel akan terus tumbuh positif pada kisaran 5,00 hingga 5,80 persen (yoy).
“Prospek ini didukung oleh kenaikan UMP sebesar 7,1 persen, pembukaan rute internasional Singapura–Palembang oleh maskapai Scoot yang diharapkan meningkatkan sektor pariwisata dan konsumsi masyarakat, serta berlanjutnya investasi pada proyek strategis,” jelasnya.
Selain itu, tren kenaikan harga komoditas unggulan Sumsel seperti batu bara dan CPO juga diperkirakan akan menopang pertumbuhan ekonomi melalui penguatan industri pengolahan.
Meski demikian, sejumlah risiko tetap perlu diwaspadai, antara lain potensi El Nino pada semester II yang dapat memicu kebakaran lahan, dampak bencana hidrometeorologi terhadap sentra pangan, potensi penurunan produksi batu bara akibat kendala logistik dan pengurangan RKAB 2026, serta berakhirnya insentif pada sektor otomotif.
Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan, lanjut Bambang, akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan guna menjaga stabilitas ekonomi.
“Kolaborasi yang kuat menjadi kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan, sekaligus mendukung program pembangunan nasional dan Asta Cita Pemerintah,” pungkasnya.













