Olahraga

Hampir Setahun Menanti Bonus, Atlet Disabilitas Lahat Ancam Turun ke Jalan Desak Pemkab Bertindak

×

Hampir Setahun Menanti Bonus, Atlet Disabilitas Lahat Ancam Turun ke Jalan Desak Pemkab Bertindak

Sebarkan artikel ini
(Para atlet NPCI Kabupaten lain saat mengikuti Tes Fisik dan Keterampilan yang digelar NPCI Sumsel)

SumselMedia.Com, Palembang-

Kesabaran ratusan atlet penyandang disabilitas di Kabupaten Lahat mulai mencapai batas. Hampir setahun setelah berjuang mengharumkan nama daerah pada Pekan Paralympic Provinsi (Peparprov) Sumatera Selatan ke-IV di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) 2025, bonus yang mereka nantikan hingga kini belum juga diterima.

Kondisi tersebut memicu kekecewaan para atlet berprestasi. Mereka bahkan mendesak Ketua National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Kabupaten Lahat, M. Soleh, untuk mengerahkan atlet melakukan aksi demonstrasi ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lahat maupun DPRD Kabupaten Lahat.

Bagi para atlet, bonus tersebut bukan sekadar penghargaan atas prestasi yang telah diraih. Di balik medali dan perjuangan membela nama daerah, ada kebutuhan sehari-hari, biaya latihan, vitamin untuk menjaga kondisi fisik, hingga tanggung jawab memenuhi kebutuhan keluarga.

Salah satu atlet berprestasi Lahat, Amel, mengungkapkan kekecewaannya kepasa Pemerintah Kabupaten Lahat yang mengabaikan para atlet disabilitas. Ia menilai para atlet telah cukup lama menunggu kepastian, sementara hak yang mereka harapkan belum kunjung terealisasi.

“Sudah hampir satu tahun kami berjuang untuk Lahat di Peparprov 2025 Muba, tapi bonus yang dijanjikan Bupati Lahat tak juga cair. Saya mewakili para atlet disabilitas Lahat siap untuk demo, baik demo Bupati Lahat maupun demo DPRD Lahat. Jika Ketua NPCI Lahat tidak mau bergabung, kami yang akan turun ke jalan,” tegas Amel disela-sela menjalani Tes Fisik Atlet Berprestasi NPCI Sumsel di Palembang, Sabtu (17/10/2026).

Menurutnya, keterlambatan pencairan bonus membuat para atlet merasa perjuangan mereka belum mendapatkan perhatian sebagaimana yang diharapkan. Kekecewaan itu semakin terasa ketika atlet dari NPCI kabupaten/kota lain di Sumatera Selatan disebut telah menerima bonus dari pemerintah daerah masing-masing.

“Kami sangat butuh bonus itu. Tidak hanya untuk mendukung latihan dan membeli vitamin, tetapi juga untuk keluarga, bahkan untuk membayar utang,” tuturnya.

Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa persoalan bonus bukan semata-mata menyangkut nominal penghargaan. Bagi sebagian atlet, bonus itu juga diharapkan dapat membantu menopang kehidupan sehari-hari setelah mereka mengerahkan kemampuan dan tenaga demi mengharumkan nama Kabupaten Lahat.

Di tengah tuntutan tersebut, Ketua NPCI Kabupaten Lahat, M. Soleh, meminta para atlet dan pelatih tetap bersabar menghadapi situasi yang terjadi. Ia mengaku memahami kekecewaan mereka, terlebih ketika atlet dari daerah lain di Sumsel telah menerima bonus Peparprov Muba 2025.

Soleh menjelaskan, salah satu kendala yang muncul berkaitan dengan pembatalan APBD Perubahan (APBD-P) Kabupaten Lahat Tahun Anggaran 2026. Berdasarkan hasil rapat DPRD Kabupaten Lahat, APBD-P tersebut resmi dibatalkan setelah aplikasi Sistem Informasi Pemerintahan Daerah (SIPD) terkunci otomatis oleh pemerintah pusat.

Kondisi itu terjadi karena sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terlambat dan belum menyelesaikan penginputan data kegiatan hingga batas akhir 30 September 2026.

Meski demikian, para atlet masih berharap pemerintah daerah dapat menemukan jalan keluar agar bonus yang mereka nantikan tidak terus menggantung tanpa kepastian.

“Sambil bersabar, kami juga berharap kepada Pemerintah Kabupaten Lahat mencarikan solusi atas bonus kami ini,” jelasnya.

Kini, di balik tuntutan untuk turun ke jalan, terselip harapan agar persoalan tersebut segera mendapat perhatian serius. Para atlet disabilitas itu telah berjuang membawa nama Kabupaten Lahat di arena pertandingan. Mereka berharap perjuangan tersebut juga mendapat penghargaan melalui kepastian pembayaran bonus yang dijanjikan.

Pemerintah Kabupaten Lahat diharapkan dapat memberikan penjelasan terbuka mengenai perkembangan persoalan ini sekaligus menyampaikan langkah konkret dan kepastian waktu penyelesaian kepada para atlet dan pelatih.

Sebab, bagi mereka, penghargaan atas prestasi bukan hanya tentang medali yang dibawa pulang, tetapi juga tentang kepastian bahwa perjuangan membela nama daerah tidak berakhir dengan penantian panjang.