Ekobis

Jaga Harga Tetap Stabil Saat Ramadan, TPID Sumsel Perkuat Sinergi Pengendalian Inflasi

×

Jaga Harga Tetap Stabil Saat Ramadan, TPID Sumsel Perkuat Sinergi Pengendalian Inflasi

Sebarkan artikel ini
(Operasi Pasar Murah Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan untuk cegah inflasi)

SumselMedia.Com, Palembang-

Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sumatera Selatan terus memperkuat sinergi dan koordinasi dalam menjaga stabilitas harga menjelang Ramadan dan Idulfitri 1447 Hijriah. Langkah ini dilakukan untuk memastikan ketersediaan pasokan bahan pokok tetap terjaga serta harga tetap terkendali di tengah meningkatnya konsumsi masyarakat pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).

Berdasarkan data terbaru, inflasi Provinsi Sumatera Selatan pada Februari 2026 tercatat sebesar 0,58 persen (month to month/mtm), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 0,05 persen (mtm). Secara tahunan, inflasi Sumatera Selatan mencapai 4,36 persen (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 2,91 persen (yoy), sejalan dengan inflasi nasional yang juga meningkat menjadi 4,76 persen (yoy).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan, Bambang Pramono, menjelaskan peningkatan inflasi tersebut terutama dipengaruhi oleh normalisasi diskon tarif listrik yang menimbulkan lower base effect pada tahun 2025.

“Pada Februari 2026, inflasi Provinsi Sumatera Selatan tercatat sebesar 0,58 persen (mtm), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,05 persen (mtm). Secara tahunan, inflasi mencapai 4,36 persen (yoy), naik dari 2,91 persen (yoy), sejalan dengan inflasi nasional yang meningkat menjadi 4,76 persen (yoy). Kenaikan ini terutama dipengaruhi oleh normalisasi diskon tarif listrik yang menimbulkan lower base effect pada 2025,” ujar Bambang.

Secara bulanan, inflasi terutama didorong oleh kenaikan harga sejumlah komoditas, antara lain emas perhiasan sebesar 0,25 persen, cabai merah 0,08 persen, daging ayam ras 0,03 persen, tomat 0,03 persen, serta telur ayam ras sebesar 0,02 persen. Kenaikan harga emas terjadi seiring meningkatnya permintaan masyarakat terhadap instrumen safe haven di tengah dinamika ekonomi global.

“Secara bulanan, inflasi terutama didorong oleh kenaikan harga emas, cabai merah, daging ayam ras, tomat, dan telur ayam ras. Kenaikan harga emas sejalan dengan meningkatnya permintaan masyarakat terhadap instrumen safe-haven di tengah dinamika ekonomi global,” jelasnya.

Sementara itu, peningkatan harga komoditas pangan seperti daging ayam dan telur ras dipengaruhi oleh meningkatnya konsumsi masyarakat pada periode Imlek dan menjelang Ramadan. Di sisi lain, kenaikan harga komoditas hortikultura juga dipicu terbatasnya pasokan akibat gangguan cuaca di sejumlah daerah sentra produksi.

Ke depan, tekanan inflasi diprakirakan masih berlanjut seiring meningkatnya konsumsi masyarakat selama Ramadan dan Idulfitri 1447 H. Risiko kenaikan harga pangan, khususnya komoditas hortikultura, tetap perlu diantisipasi mengingat curah hujan diperkirakan berada pada level menengah hingga tinggi hingga Maret 2026.

“Namun demikian, tekanan inflasi diprakirakan tertahan oleh puncak panen raya padi pada Februari hingga Maret 2026 yang akan memperkuat pasokan pangan,” tambah Bambang.

Dalam rangka menjaga stabilitas harga, TPID Sumatera Selatan terus memperkuat koordinasi melalui strategi pengendalian inflasi berbasis 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, serta komunikasi yang efektif.

Hingga akhir Februari 2026, telah dilaksanakan 47 kegiatan operasi pasar murah, Gerakan Pangan Murah (GPM), dan Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di berbagai wilayah Sumatera Selatan, serta 16 kali inspeksi mendadak (sidak) pasar untuk memastikan harga sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) serta ketersediaan stok mencukupi.

Menjelang Idulfitri, Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan bersama TPID Kota Palembang juga melakukan sidak di Pasar Lemabang dan Lotte Grosir Palembang guna memastikan distribusi berjalan lancar serta harga tetap stabil di tingkat pasar.

Upaya stabilisasi harga turut diperkuat melalui pemberian subsidi harga dan subsidi ongkos angkut, termasuk pelaksanaan Gerakan Pangan Murah di Desa Gasing, Kabupaten Banyuasin, dengan dukungan subsidi ongkos angkut untuk sembilan komoditas utama dengan total berat sekitar ±4 ton.

Penguatan koordinasi juga dilakukan melalui berbagai forum komunikasi, seperti Rapat Koordinasi TPIP–TPID Wilayah Sumatera, High Level Meeting, serta peluncuran Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) yang dihadiri Deputi Gubernur Bank Indonesia dan kementerian terkait.

Di tingkat daerah, komitmen tersebut diperkuat melalui Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP) yang pada tahun ini mengusung tema Goes to Pesantren serta dirangkaikan dengan business matching KDKMP dan Koperasi Pesantren dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai offtaker.

Bambang menegaskan, Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan bersama pemerintah daerah dalam TPID akan terus memperkuat sinergi pengendalian inflasi agar tetap berada dalam sasaran serta mendukung ketahanan pangan daerah.

“Ke depan, Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan bersama Pemerintah Daerah dalam TPID berkomitmen terus memperkuat sinergi pengendalian inflasi guna menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran, memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan produktivitas sektor pertanian, serta mendorong pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan,” tutupnya.