SumselMedia.Com, Palembang-
Langit dan bumi bukan lagi sekadar teori bagi mahasiswa Pendidikan Geografi Universitas PGRI Palembang. Selama dua pekan, mereka menapaki dunia nyata meteorologi melalui program Magang Lapangan dan Literasi Meteorologi di Stasiun Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sumatera Selatan.
Di tempat ini, para mahasiswa belajar langsung mengenali instrumen pengamatan cuaca, membaca data iklim, hingga memahami bagaimana informasi atmosfer diolah menjadi dasar prediksi dan peringatan dini bagi masyarakat. Kegiatan yang diikuti oleh puluhan mahasiswa semester tujuh ini menjadi sarana pembelajaran kontekstual yang menghubungkan teori geografi fisik di kelas dengan praktik ilmiah di lapangan. Tak hanya itu, mahasiswa juga berperan aktif mendampingi siswa sekolah menengah dalam kegiatan literasi meteorologi, memperkenalkan konsep cuaca dan iklim dengan cara yang edukatif dan menyenangkan.
Rektor Universitas PGRI Palembang, Assoc. Prof. Dr. H. Bukman Lian, M.M., M.Si., menyambut baik kolaborasi ini sebagai bentuk nyata sinergi antara dunia pendidikan tinggi dan lembaga pemerintah dalam mengembangkan literasi sains di bidang meteorologi dan klimatologi.
“Mahasiswa tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga melihat langsung bagaimana data cuaca dan iklim dikumpulkan, dianalisis, dan dimanfaatkan untuk kepentingan publik seperti prediksi hujan, pertanian, hingga mitigasi bencana,” jelasnya.
Dukungan penuh diberikan oleh jajaran pimpinan universitas — mulai dari rektor, wakil rektor, dekan FKIP, hingga program studi Pendidikan Geografi — untuk memastikan mahasiswa memiliki pengalaman praktis yang relevan dengan kebutuhan masa depan.
Selama kegiatan magang, mahasiswa diperkenalkan dengan berbagai instrumen meteorologi dan klimatologi yang digunakan dalam pengamatan atmosfer, seperti termometer maksimum-minimum, barometer air raksa, anemometer, higrometer, ombrometer, hingga radiation balance instrument yang berfungsi mengukur energi matahari yang diterima permukaan bumi. Mahasiswa juga dilibatkan dalam simulasi pengambilan data cuaca harian, mencatat suhu udara, kelembapan, tekanan udara, arah dan kecepatan angin, serta curah hujan. Mereka belajar bahwa data cuaca yang sering muncul di televisi dan aplikasi digital ternyata berasal dari proses pengamatan yang sangat teliti dan terukur.
Salah satu peserta magang, Haeny Oktavia (NIM 2023133010), mengaku mendapatkan pengalaman berharga. “Kami jadi tahu bagaimana kerja lapangan di BMKG sesungguhnya. Tidak hanya membaca data, tapi juga belajar disiplin waktu, ketelitian, dan tanggung jawab,” ujarnya.
Mahasiswa juga dikenalkan dengan teknologi pengamatan modern seperti Automatic Weather Station (AWS) dan Data Logger, yang merekam parameter cuaca secara otomatis dan terintegrasi dengan sistem satelit. Selain praktik lapangan, mahasiswa turut terlibat dalam kegiatan pendampingan siswa sekolah menengah untuk meningkatkan literasi meteorologi. Bersama tim edukasi BMKG, mereka menjelaskan perbedaan antara cuaca dan iklim, mengenali simbol prakiraan cuaca, serta membaca peta isobar dan citra satelit sederhana.
Kegiatan ini dikemas dalam bentuk workshop interaktif dan demonstrasi alat meteorologi mini, sehingga siswa dapat belajar dengan cara yang seru dan mudah dipahami. Plt. Kepala Stasiun Klimatologi Sumatera Selatan, Dr. Wandayantolis, mengatakan program ini penting untuk menumbuhkan kesadaran iklim sejak dini. “Pemahaman tentang cuaca dan iklim tidak hanya penting bagi ilmuwan, tetapi juga masyarakat umum. Anak-anak perlu tahu bagaimana fenomena alam bekerja agar lebih peduli terhadap lingkungan dan perubahan iklim,” jelasnya.
Dosen pembimbing lapangan, Budi Utomo, M.Sc., menegaskan bahwa kegiatan ini sejalan dengan visi Program Studi Pendidikan Geografi dalam membentuk lulusan yang tangguh, berwawasan lingkungan, dan siap menghadapi tantangan global. “Geografi bukan sekadar belajar peta dan wilayah. Di era perubahan iklim, lulusan geografi harus memiliki kemampuan analisis spasial dan pemahaman klimatologi yang kuat. Pengalaman seperti ini sangat berharga untuk menyiapkan mereka menjadi pendidik profesional sekaligus agen literasi sains di masyarakat,” tuturnya.
Pihak BMKG juga mengapresiasi keterlibatan mahasiswa sebagai mitra edukatif, karena turut membantu memperluas jangkauan diseminasi informasi meteorologi ke sekolah-sekolah dan komunitas masyarakat.
Menurut Dekan FKIP Universitas PGRI Palembang, Assoc. Prof. Dr. Misdalina, M.Pd., kegiatan magang ini tidak hanya memberikan pengalaman lapangan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran ilmiah di kalangan mahasiswa. “Ke depan, program ini akan terus dikembangkan dengan kegiatan riset kecil seperti analisis curah hujan, tren suhu udara, hingga dampak perubahan iklim terhadap sektor pertanian di Sumatera Selatan. Kami ingin mahasiswa tidak hanya belajar, tapi juga berkontribusi dalam penyediaan data ilmiah dan edukasi publik,” ujarnya.
Melalui kolaborasi antara kampus dan BMKG ini, mahasiswa Pendidikan Geografi Universitas PGRI Palembang belajar menjadi ilmuwan muda sekaligus pendidik masa depan yang peka terhadap perubahan lingkungan. Kegiatan ini menegaskan bahwa literasi meteorologi bukan sekadar topik ilmiah, melainkan keterampilan hidup penting untuk membangun masyarakat yang tangguh terhadap bencana dan adaptif terhadap perubahan iklim.













