SumselMedia.Com, Palembang-
Matahari mulai naik sepenggalah di Bumi Sriwijaya pagi itu. Suara narator terdengar nyaring dari sebuah telepon pintar di sudut teras Klinik Pijat Urut Pertuni Jaya Palembang. Kecepatannya hampir dua kali lipat dari percakapan biasa. Bagi kebanyakan orang, suara itu terdengar sulit dipahami. Namun bagi Pendi Suardi (37), suara itulah yang setiap hari membukakan jendela dunia.
Jemarinya lincah menyapu layar ponsel. Melalui fitur TalkBack, teknologi pembaca layar pada Android, setiap tulisan di layar berubah menjadi suara. Dari sanalah Pendi mendengarkan berita, mempelajari teknik sport massage, hingga menyimak pertandingan judo dari berbagai belahan dunia.
Tak lama kemudian, seorang pelanggan datang. Pendi segera menghentikan video yang didengarkannya, memasukkan ponsel ke saku, lalu berdiri menyambut tamunya dengan senyum ramah. Rutinitas itu hampir selalu ia jalani setiap hari.
Di sela-sela pekerjaannya sebagai terapis pijat, internet menjadi ruang belajar tanpa batas. Baginya, setiap menit yang luang adalah kesempatan untuk menambah ilmu.
“Kalau sedang belum ada pelanggan, saya biasanya mendengarkan video. Banyak yang bisa dipelajari. Ada teknik sport massage, tutorial judo, sampai belajar menggunakan Android,” tuturnya kepada Sumselmedia.com, Jumat (3/7/2026).
Bagi penyandang tunanetra seperti Pendi, internet bukan sekadar sarana komunikasi. Melalui TalkBack, ia dapat mengoperasikan telepon pintarnya secara mandiri, mulai dari memilih paket data, mencari informasi, membuka aplikasi, hingga menikmati video edukasi tanpa bergantung kepada orang lain.
Bagi Pendi, suara dari TalkBack bukan hanya membacakan huruf demi huruf di layar telepon pintar. Suara itu menjadi “mata” yang membimbingnya mengenali dunia digital. Dari sanalah ia belajar teknik pijat olahraga terbaru, mengikuti perkembangan judo internasional, membaca berita, hingga berkomunikasi dengan keluarga dan rekan sesama atlet. Teknologi telah mengubah keterbatasan menjadi kemampuan baru yang sebelumnya sulit ia bayangkan.
Perjalanan digitalnya dimulai sekitar tahun 2011. Saat itu ia mulai menggunakan kartu Tri, bahkan sebelum beralih ke smartphone. Hingga kini, pilihannya tidak berubah.
“Saya sudah pakai Tri sejak sekitar tahun 2011. Dari dulu sampai sekarang masih tetap pakai karena sinyalnya lumayan cepat. Kuotanya juga murah. Saya biasanya pakai paket AlwaysOn karena masa aktifnya panjang, bahkan bisa sampai setahun,” katanya.
Baginya, paket internet yang hemat berarti kesempatan belajar yang lebih panjang. Ia dapat mengakses berbagai materi tanpa harus khawatir terlalu sering membeli paket data.
Internet kemudian menjadi “pelatih” keduanya. Selain berlatih langsung bersama pelatih, ia rutin mempelajari teknik bantingan, strategi bertanding, hingga pola latihan atlet judo dunia melalui berbagai video di internet.
“Selain latihan dengan pelatih, saya juga sering belajar dari video-video di internet. Dari situ saya mendapat tambahan teknik dan pengalaman,” tuturnya.
Bahkan ketika tidak berada di arena latihan, proses belajar tidak pernah berhenti. Setiap video yang didengarkannya menjadi bekal untuk memperkaya teknik dan strategi. Internet telah menjadi ruang kelas tanpa dinding yang dapat diakses kapan saja, selama koneksi tetap tersedia.
Bagi Pendi, internet bukan sekadar soal kecepatan mengakses informasi. Internet adalah jembatan menuju kemandirian. Melalui layar yang tak pernah benar-benar ia lihat, ia justru mampu melihat lebih banyak peluang untuk berkembang.
Semangat belajar yang tak pernah padam itu akhirnya membuahkan hasil. Pada Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XV Tahun 2016 di Jawa Barat, Pendi berhasil mempersembahkan medali perunggu cabang olahraga judo bagi Sumatera Selatan.
Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan penglihatan bukanlah penghalang untuk terus berkembang. Dengan kemauan belajar, latihan yang disiplin, dan dukungan teknologi digital, ia mampu bersaing di tingkat nasional.
Ketua Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) Sumatera Selatan, Iwan Susanto, menilai Pendi merupakan contoh nyata bagaimana teknologi digital mampu meningkatkan kualitas hidup penyandang disabilitas.
“Harus diakui, banyak penyandang tunanetra memiliki berbagai keahlian. Salah satunya Pendi. Selain menjadi terapis pijat profesional, dia juga atlet judo nasional yang telah mengharumkan nama Sumatera Selatan,” katanya.
Menurut Iwan, salah satu kekuatan terbesar Pendi adalah semangat belajarnya yang tidak pernah padam.
“Sangat ulet. Bahkan di sela-sela waktu bekerja, dia sering mendengarkan video-video edukasi melalui internet. Itulah yang membuat wawasannya terus bertambah hingga mampu meraih berbagai prestasi,” ujarnya.
Apa yang dilakukan Pendi ternyata bukan fenomena yang berdiri sendiri. Di balik kisah seorang atlet tunanetra yang belajar melalui internet, terdapat perubahan besar yang sedang berlangsung di Sumatera Selatan. Internet kini semakin akrab dengan kehidupan masyarakat lintas usia, profesi, hingga kelompok disabilitas.

Hal itu terlihat dari data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang menunjukkan tren penggunaan internet masyarakat Sumatera Selatan terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Selatan, M. Wahyu Yulianto, mengatakan persentase penduduk berusia lima tahun ke atas yang menggunakan internet meningkat dari 56,89 persen pada 2021 menjadi 75,74 persen pada 2025. Dalam lima tahun terakhir terjadi kenaikan sebesar 18,85 poin persentase.
Menurut Wahyu, peningkatan tersebut menunjukkan internet telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Kehadirannya tidak lagi sebatas untuk komunikasi, tetapi juga dimanfaatkan untuk memperoleh informasi, pendidikan, layanan publik, hingga aktivitas ekonomi dan keuangan digital.
“Pertumbuhan pengguna internet menjadi modal penting untuk mendorong transformasi digital di berbagai sektor. Semakin luas akses internet, semakin besar pula peluang masyarakat memperoleh manfaat dari ekonomi digital,” ujarnya.
Berdasarkan data Susenas 2025, aktivitas yang paling banyak dilakukan masyarakat Sumatera Selatan saat menggunakan internet adalah menikmati hiburan dengan persentase mencapai 88,34 persen. Selanjutnya mencari atau memperoleh informasi sebesar 79,29 persen, serta menggunakan media sosial atau jejaring sosial sebesar 77,96 persen.
Namun internet juga mulai dimanfaatkan untuk kegiatan yang lebih produktif. Sebanyak 23,44 persen pengguna internet memanfaatkannya untuk membeli barang atau jasa secara daring, sementara 12,49 persen menggunakan layanan keuangan digital seperti mobile banking maupun e-banking.
Menurut Wahyu, temuan tersebut menunjukkan bahwa internet telah berkembang menjadi instrumen penting yang mendukung produktivitas masyarakat.
“Ke depan tantangannya adalah bagaimana internet tidak hanya digunakan untuk hiburan, tetapi semakin banyak dimanfaatkan untuk pendidikan, peningkatan keterampilan, produktivitas, dan kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Ia juga menilai akses internet memiliki arti yang jauh lebih besar bagi kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas.
Menurutnya, internet kini telah menjadi infrastruktur digital yang menghubungkan masyarakat dengan informasi, pendidikan, layanan publik, hingga peluang ekonomi tanpa dibatasi ruang dan waktu.
“Melalui internet, penyandang disabilitas dapat memperoleh informasi secara lebih mandiri, mengikuti pelatihan, memanfaatkan layanan administrasi maupun keuangan digital, bahkan mengembangkan usaha atau profesinya. Mereka tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga dapat berperan sebagai pelaku pembangunan,” ujarnya.
Wahyu menambahkan, kisah Pendi merupakan contoh nyata bagaimana akses internet mampu membuka ruang yang lebih inklusif.
“Transformasi digital akan benar-benar berhasil apabila setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses dan memanfaatkan teknologi. Kisah seperti Pendi menunjukkan bahwa internet dapat menjadi alat pemberdayaan yang mampu meningkatkan kapasitas diri sekaligus membuka peluang untuk berprestasi,” katanya.
Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa internet tidak lagi sekadar menghadirkan konektivitas. Bagi sebagian orang, terutama penyandang disabilitas, internet telah menjadi jembatan menuju kemandirian, kesempatan, dan masa depan yang lebih baik.

Pengamat Ekonomi Sumatera Selatan Prof. Dr. Sri Rahayu, SE., M.Si., menilai internet kini tidak lagi sekadar menjadi sarana komunikasi, tetapi telah berkembang menjadi modal pembangunan ekonomi. Menurutnya, konektivitas digital mampu memperluas akses masyarakat terhadap pendidikan, peningkatan keterampilan, hingga kesempatan memperoleh pendapatan.
“Transformasi digital akan memberikan dampak ekonomi apabila masyarakat memanfaatkan internet untuk aktivitas yang produktif. Ketika internet digunakan untuk belajar, meningkatkan kompetensi, mengembangkan usaha, hingga mengakses layanan keuangan digital, maka produktivitas masyarakat juga akan meningkat,” ujarnya.
Ia menilai kisah Pendi Suardi merupakan contoh nyata bahwa manfaat internet tidak selalu diukur dari seberapa sering seseorang menggunakannya, tetapi dari bagaimana teknologi tersebut mampu meningkatkan kualitas hidup.
“Pendi membuktikan bahwa akses internet dapat menjadi instrumen pemberdayaan. Dari internet, ia memperoleh pengetahuan baru, meningkatkan keterampilan, hingga mampu meraih prestasi olahraga di tingkat nasional. Inilah esensi transformasi digital yang sesungguhnya, yaitu menghadirkan kesempatan yang setara bagi setiap orang untuk berkembang tanpa memandang kondisi fisiknya,” katanya.
Menurut Sri Rahayu, semakin luas akses internet yang terjangkau dan berkualitas, semakin besar pula peluang terciptanya sumber daya manusia yang lebih adaptif, inovatif, dan berdaya saing. Karena itu, pemerataan konektivitas digital menjadi salah satu fondasi penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Perubahan cara masyarakat memanfaatkan internet juga menjadi perhatian EVP Head of Circle Sumatra Indosat Ooredoo Hutchison, Agus Sulistio. Menurutnya, kebutuhan digital masyarakat terus berkembang, mulai dari belajar, bekerja, berkomunikasi, menikmati hiburan, hingga memanfaatkan teknologi kecerdasan artifisial (AI) dalam aktivitas sehari-hari.
Karena itu, Indosat melalui brand Tri terus memperkuat kualitas jaringan dan memperluas akses layanan digital agar pelanggan dapat menikmati pengalaman internet yang semakin cepat, stabil, dan mudah dijangkau. Di Palembang, pengembangan jaringan dilakukan secara bertahap, termasuk menghadirkan layanan 5G untuk mendukung meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap konektivitas digital.
Menurut Agus, kisah pelanggan Tri seperti Pendi Suardi membuktikan bahwa konektivitas bukan sekadar persoalan kecepatan internet, melainkan bagaimana teknologi mampu menghadirkan manfaat nyata bagi kehidupan.
“Internet bukan hanya menghubungkan perangkat dengan jaringan, tetapi juga menghubungkan manusia dengan pengetahuan, keterampilan, dan peluang baru. Ketika akses digital dapat dinikmati secara mudah dan terjangkau, masyarakat memiliki kesempatan yang lebih besar untuk berkembang,” ujarnya.
Melalui Tri, Indosat menghadirkan layanan yang hemat, fleksibel, dan mudah diakses, termasuk pilihan paket AlwaysOn dengan masa aktif panjang sehingga pelanggan dapat mengatur penggunaan internet sesuai kebutuhannya. Bagi pelanggan seperti Pendi, paket tersebut memberikan keleluasaan untuk terus belajar, mengikuti perkembangan olahraga, hingga meningkatkan kompetensi tanpa harus dibayangi kekhawatiran masa aktif yang singkat.
Kisah Pendi menunjukkan bahwa manfaat konektivitas sering kali lahir dari hal-hal sederhana. Dari sebuah telepon pintar dan paket internet yang terjangkau, seorang penyandang tunanetra mampu membangun ruang belajar yang tak mengenal batas.
Menjelang sore, suara TalkBack kembali terdengar dari telepon pintar milik Pendi. Setelah pelanggan terakhir pulang, ia kembali membuka video latihan judo. Jemarinya bergerak lincah di atas layar, sementara suara pembaca layar terus mengalun cepat di telinganya.
Tak ada riuh tepuk tangan penonton. Tak ada sorotan lampu arena pertandingan. Hanya ada suara digital yang membacakan setiap kata. Namun dari suara itulah lahir pengetahuan, kepercayaan diri, dan mimpi-mimpi baru.
Bagi sebagian orang, internet mungkin hanya digunakan untuk mengisi waktu luang. Bagi Pendi, internet adalah ruang belajar yang tak pernah tutup, pelatih kedua yang selalu siap memberikan pengetahuan baru, sekaligus jembatan yang menghubungkannya dengan dunia yang tak dapat ia lihat.
Dari teras sederhana Klinik Pijat Urut Pertuni Jaya Palembang, Pendi membuktikan bahwa keterbatasan penglihatan tidak pernah membatasi besarnya cita-cita. Dengan semangat belajar yang tak pernah padam, disiplin berlatih, serta dukungan konektivitas digital yang andal, ia mampu mengukir prestasi sebagai atlet nasional sekaligus menjadi terapis profesional yang mandiri.
Transformasi digital pada akhirnya tidak hanya diukur dari seberapa cepat jaringan internet bekerja atau seberapa canggih teknologi yang digunakan. Nilai sesungguhnya terletak pada seberapa besar teknologi mampu membuka kesempatan yang setara bagi setiap orang untuk tumbuh dan berkembang.
Ketika akses internet yang hemat bertemu dengan jaringan yang andal dan semangat belajar yang tidak pernah padam, keterbatasan bukan lagi menjadi penghalang. Dari Palembang, Pendi Suardi telah menunjukkan bahwa seseorang tidak harus melihat dunia dengan kedua matanya untuk mampu menaklukkannya. Cukup dengan keberanian untuk terus belajar, tekad yang kuat, dan koneksi yang membuka jalan menuju masa depan. (Sugiarto)













