PGRI

............

Ekobis

UMKM Batik Jogja Bertahan di Era Digital, Transaksi QRIS dari Museum hingga Marketplace

SumselMedia.Com, Yogyakarta-

Batik sebagai warisan budaya tidak hanya hadir dalam bentuk motif sarat makna, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi kreatif yang mampu bertahan di tengah arus digitalisasi. Di Yogyakarta, UMKM batik terus berinovasi agar tetap relevan dengan zaman, salah satunya melalui pemanfaatan QRIS yang mempermudah transaksi, baik di Museum Batik maupun marketplace digital.

Wakil Pengelola Museum Batik Yogyakarta, Diki Wibowo, mengatakan museum yang berdiri sejak 12 Mei 1979 ini kini tidak hanya berfungsi sebagai ruang edukasi budaya, tetapi juga menjadi kanal promosi dan penjualan produk batik lokal.

“Setiap pengunjung yang datang bisa belajar filosofi batik sekaligus membeli produk dari pengrajin. Dengan adanya QRIS, pembayaran menjadi lebih mudah dan praktis, bahkan bagi wisatawan mancanegara,” ujarnya kepada Sumselmedia.com disela-sela penyambutan peserta Capacity Building dan Media Gathering Bank Indonesia Sumsel saat berkunjung di Museum Batik Yogyakarta, Kamis (25/9/2025).

Menurut Diki, hampir 100 persen transaksi di Museum Batik sudah menggunakan QRIS, sementara pembayaran tunai hanya dilakukan oleh sebagian kecil pengunjung. Mayoritas pengunjung sendiri berasal dari wisatawan lokal hingga mancanegara.

Pemanfaatan teknologi digital juga memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan penjualan. “Sekarang kami tidak lagi bergantung pada toko fisik. Penjualan daring lewat marketplace semakin lancar karena pembayaran bisa langsung dengan QRIS. Pembeli dari luar daerah pun merasa lebih aman dan cepat,” tambahnya.

Meski harus bersaing dengan batik printing yang lebih murah, para perajin batik tulis dan cap tetap optimistis. Diki menegaskan, keunggulan produk batik tradisional terletak pada nilai seni, keaslian, serta pengalaman membeli yang semakin modern berkat dukungan digitalisasi.

Ia menambahkan, setiap batik selalu mengandung filosofi mendalam. Salah satunya adalah motif parang rusak yang memiliki makna seorang raja harus memperbaiki yang rusak. Motif ini diciptakan leluhur Yogyakarta dan Solo, sehingga tidak boleh dipakai di dalam keraton. “Motif ini boleh digunakan di luar keraton, tetapi tidak disarankan dipakai saat menghadiri pernikahan karena dipercaya bisa membawa makna rusaknya rumah tangga,” jelasnya.

Hal senada disampaikan Nabil, Tour Gate Museum Sriwijaya. Ia menjelaskan harga batik yang tersedia sangat beragam: batik cap Rp300–500 ribu, batik tulis Rp1–12 juta, dan batik printing Rp100–200 ribu. “Banyak orang membeli di sini karena selain mendapatkan produk asli, mereka juga bisa ikut edukasi dan workshop tentang batik,” katanya.

Terpisah, Kepala Bank Indonesia Perwakilan Sumsel Bambang Pramono pada penyampaian materi Capacity Building di Abhayagiri Restaurant mengatakan bahwa di Sumatera Selatan Bank Indonesia juga terus melakukan edukasi dan literasi tentang QRIS melalui berbagai kegiatan.

Dalam memperluas akseptasi QRIS, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sumsel terus melakukan inovasi program dan berkolaborasi dengan berbagai stakeholder, antara lain event Digital Kito Galo, QRIS Jelajah Indonesia, Gerakan Bersama Masyarakat Perluas Akuisisi QRIS (GEBYAR QRIS), dan Launching QRIS Tap Mpos DAMRI. Hingga Agustus 2025, GEBYAR QRIS telah dilaksanakan di Kabuoaten Muara Enim, dan Kab. OKU Selatan. Bahkan, pada tahun 2026 roadshow QRIS dimaksud akan dilanjutkan ke kota/ kab. lainnya

Back to top button