Ekobis

ESB Gelar Kopdar Racik Bisnis F&B di Palembang, Bahas Pentingnya ‘Data-Driven F&B’ untuk Menangkan Peluang ‘Lipstick Effect’

×

ESB Gelar Kopdar Racik Bisnis F&B di Palembang, Bahas Pentingnya ‘Data-Driven F&B’ untuk Menangkan Peluang ‘Lipstick Effect’

Sebarkan artikel ini
(Sesi Sharing di ESB Kopdar Racik Bisnis F&B Palembang)

SumselMedia.Com, Palembang-

Setelah sukses menyambangi Kota Bandung dan Bali dengan menjaring lebih dari 1.500 pendaftar pengusaha kuliner, PT Esensi Solusi Buana (ESB) — penyedia ekosistem teknologi F&B terintegrasi terbesar di Indonesia peraih Forbes Asia 100 to Watch 2025 — kini menggelar Kopdar Racik Bisnis F&B di Palembang (9/7) dengan lebih dari 400 pendaftar pengusaha kuliner lokal.

Sebagai kota ketiga dalam rangkaian roadshow nasional bertajuk “Meramu Strategi Tepat, Bisnis Kuliner Semakin Kuat”, Palembang dipilih karena statusnya sebagai salah satu pusat ekonomi utama di Sumatera yang memiliki akar industri kuliner lokal yang sangat kuat.

Langkah strategis ini diambil ESB untuk mendukung pebisnis kuliner di Palembang agar mampu melakukan scale up, mengamankan margin, dan memperkuat daya saing mereka.

Melalui pemanfaatan data operasional real-time serta efisiensi sistem digital end-to-end, kegiatan ini hadir sebagai ruang edukasi bagi pelaku usaha di Sumatera Selatan untuk menavigasi dinamika pasar F&B modern secara optimal.

Kondisi industri F&B saat ini tengah menghadapi paradoks ekonomi yang menantang. Di satu sisi, ekonomi Indonesia sukses mencatat rekor pertumbuhan 5,61 persen pada Triwulan I-2026.

Namun disisi lain, data mengungkap fakta menyusutnya kelas menengah Indonesia dari 47,9 juta orang pada 2024 menjadi 46,7 juta orang pada 2025.

Tekanan daya beli ini melahirkan fenomena Lipstick Effect, dimana konsumen menahan belanja besar seperti properti dan mengalihkan anggarannya ke kesenangan kecil harian (small indulgences) seperti kopi dan kuliner ramah kantong.

Hal tersebut tercermin dari konsumsi kopi domestik Indonesia pada 2026/27 yang menurut laporan USDA diproyeksikan tetap tumbuh positif menjadi 4,83 juta kantong (setara dengan miliaran cangkir kopi).

Meskipun kenaikan harga biji kopi sempat menjepit margin pelaku usaha dan menggeser preferensi konsumen ke varian kelas menengah-bawah (low-to-medium grade), namun permintaan pasar secara keseluruhan dinilai tetap kuat.

Di Palembang sendiri, potensi pasar F&B terus menggeliat seiring dengan transformasi kota sebagai hub bisnis yang dinamis. Palembang memiliki ekosistem kuliner yang kuat, mulai dari usaha berbasis makanan khas lokal hingga pertumbuhan kedai kopi dan konsep F&B modern.

Namun, semakin banyaknya pemain membuat pelaku usaha perlu lebih disiplin dalam mengendalikan biaya, menjaga konsistensi operasional, dan memahami perubahan perilaku konsumen.

Gunawan, Co-Founder & CEO ESB, menjelaskan bahwa di era Lipstick Effect, pasar F&B Palembang menyimpan potensi pertumbuhan yang besar bagi pelaku usaha yang didukung oleh sistem operasional yang tepat.

“Masyarakat Palembang tetap aktif berkuliner di luar, namun kini mereka jauh lebih selektif dalam menilai kesesuaian harga dan kualitas (value) yang didapatkan. Di saat yang sama, fluktuasi harga bahan baku menjadi tantangan tersendiri yang menggerus margin keuntungan secara tidak kasat mata. Dalam kondisi ini, pengelolaan operasional secara manual tentu memiliki keterbatasan dalam merespons pasar yang bergerak cepat. Oleh karena itu, digitalisasi operasional berbasis data real-time bukan lagi sekadar nilai tambah untuk bertumbuh, melainkan sebuah fondasi penting guna menjaga ketahanan bisnis dan memastikan keberlanjutan usaha di tengah kompetisi yang dinamis,” ujarnya.

Guna menjawab tantangan tersebut, ESB menghadirkan tiga infrastruktur digital unggulannya yang terintegrasi dari hulu ke hilir:

  • ESB POS: Menjamin keandalan manajemen kasir, akurasi pencatatan transaksi harian, dan
    kelancaran operasional di lini depan (front-end).
  • ESB Order: Memodernisasi pengalaman konsumen melalui sistem pemesanan mandiri (scan-
    order-pay) dari meja yang efisien, adaptif, serta mampu memangkas waktu antrean hingga 40%
  • ESB Core (ERP): Menyediakan visibilitas data stok dan inventaris secara real-time,
    memangkas biaya waste bahan baku secara otomatis (back-end), serta mendeteksi erosi
    margin sebelum menyentuh titik kritis.

Tantangan operasional di lapangan ini diakui oleh Mirza Oktaviansyah, Owner Kopi Loer yang menjadi salah satu pembicara dalam acara ini. “Tantangan terbesar saat mengelola dan mengembangkan kedai kopi di Palembang adalah kebocoran operasional dan kontrol stok bahan baku yang tidak akurat jika masih memakai cara manual. Sering kali di catatan tertulis stok masih aman, tapi di lapangan ternyata sudah habis, atau sebaliknya terjadi pemborosan bahan baku (waste).

Melalui integrasi teknologi seperti ESB POS dan ESB Core (ERP), setiap cangkir kopi yang keluar kini otomatis memotong gramasi stok di gudang secara presisi. Angka waste kelihatan jelas, kebocoran dikunci, dan performa bisnis dari berbagai cabang bisa dipantau langsung dari handphone dengan tenang,” ungkap Mirza.

Perspektif strategis dari sisi edukasi bisnis disampaikan oleh Agung Haryadi, F&B Educator & Business Management Consultant yang hadir sebagai pembicara. “Pola yang saya lihat konsisten di seluruh kota yang saya dampingi: bisnis kuliner yang bertahan bukan yang paling ramai, tapi yang paling cepat membaca perubahan dan meresponsnya dengan keputusan berbasis data.

Di Palembang, saya melihat hal yang sama. Pengusaha kuliner di sini punya produk yang kuat dan pasar yang loyal. Tantangannya adalah membangun sistem operasional yang bisa menopang pertumbuhan itu secara berkelanjutan bukan hanya di satu outlet, tapi ketika bisnisnya mulai berkembang ke skala berikutnya.

“Bisnis yang tidak punya visibilitas data operasional secara real-time akan selalu terlambat merespons dan di pasar yang kompetitif, keterlambatan itu mahal,” jelasnya.

Senada dengan itu, Edwin Djaja, Regional Sales Lead ESB untuk wilayah Sumatera, menegaskan
komitmen ESB terhadap ekosistem kuliner Palembang. “Sumatera adalah pasar F&B dengan potensi yang sangat besar dan Palembang adalah salah satu kota yang siap untuk bertransformasi. Saya melihat langsung bagaimana pelaku kuliner di sini sudah punya modal yang kuat: produk yang dikenal, pelanggan yang loyal, dan kultur berkuliner yang tinggi. Yang kami bawa ke Palembang bukan sekadar teknologi tapi ekosistem yang memungkinkan pengusaha lokal bersaing di level yang sama dengan brand besar, dengan data dan sistem yang selama ini hanya bisa diakses oleh pemain skala korporasi,” ujarnya.

Sinergi Ekosistem: Kolaborasi untuk Ketangguhan Bisnis Kegiatan Kopdar Racik Bisnis F&B ini merupakan inisiatif edukasi berkelanjutan dari ESB sebagai bentuk komitmen jangka panjang dalam merangkul komunitas pengusaha kuliner di tanah air. Dirancang khusus sebagai forum diskusi, sesi mentoring, dan bedah studi kasus bagi para owner, founder, serta decision maker, Palembang terpilih sebagai pemberhentian ketiga dari rangkaian roadshow 10 kota nasional yang berjalan sepanjang tahun 2026, mencakup kota-kota besar lainnya dari Medan hingga Makassar.

Guna membantu lebih banyak pelaku usaha F&B ‘naik kelas’ melalui pemanfaatan teknologi tepat guna, program inklusif ini juga membuka ruang kolaborasi dengan komunitas bisnis lokal, dengan didukung penuh oleh mitra strategis utama:

BCA (Official Payment Partner) — Memperkuat fundamental keuangan bisnis melalu ekosistem pembayaran OCEAN by BCA. Integrasi EDC BCA dan QRIS langsung dengan sistem kasir ESB POS memungkinkan setiap transaksi berjalan mulus, aman, dan tercatat akurat untuk keperluan rekonsiliasi keuangan.

“Keberlanjutan industri F&B di Palembang kini tidak hanya bertumpu pada produktivitas di dapur, melainkan juga pada seberapa optimal kita mengelola dan memanfaatkan data operasional bisnis. Momen ini merupakan kesempatan berharga bagi pelaku usaha kuliner di Palembang untuk menyelaraskan kembali sistem internal mereka agar siap melakukan scale up. Bersama ESB, mari kita bersinergi mengubah setiap tantangan menjadi peluang, menjaga stabilitas margin usaha, dan menjadi pemenang di pasar sendiri,” tutup Gunawan.

Tentang ESB (PT Esensi Solusi Buana)

PT Esensi Solusi Buana (ESB) adalah spesialis sistem operasional terintegrasi untuk bisnis kuliner yang telah diakui sebagai Forbes Asia 100 to Watch 2025. Berdiri sejak 2018, ESB menyediakan ekosistem teknologi F&B lengkap yang mencakup: aplikasi kasir ESB POS (berbasis cloud, real-time), sistem ERP ESB Core untuk manajemen keuangan dan rantai pasok, ESB Order untuk sistem pemesanan online, OLIN AI (asisten kecerdasan buatan pertama di dunia untuk industri kuliner), kitchen display, queue display, kiosk, program loyalitas pelanggan, Business Intelligence (BI), serta sistem pembayaran terintegrasi Asteripay.

Hingga 2026, ESB telah dipercaya oleh lebih dari 30.000 merchant aktif di Indonesia dengan total nilai transaksi melampaui Rp 65 triliun. Ekosistem ESB melayani berbagai tipe bisnis F&B — mulai dari restoran, kafe, kedai kopi, bakery, cloud kitchen, hingga hotel — dengan solusi yang dapat disesuaikan untuk skala UMKM hingga korporasi besar.

Brand pengguna ESB antara lain: BOGA Group, Starbucks, Remboelan, Richeese Factory, Amanda Brownies, Arabica, Puyo, Marugame, Wingstop, Emados, Almaz Fried Chicken, Pempek Saga, Kopi Loer, Warkop Nuri, Bakso Granat Mas Azis, Hai Sushi, Lapan Kopi, Teh Aba, Bakehouse, Naka dan ribuan brand kuliner Indonesia lainnya.
Website: esb.id | Instagram: @esb.id