SumselMedia.Com, Banyuasin-
Terasi rebon selama ini menjadi salah satu produk olahan yang lekat dengan kehidupan masyarakat pesisir Desa Sungsang, Kabupaten Banyuasin. Namun, di balik potensi cita rasa dan sumber daya laut yang melimpah, pengolahan terasi masih menghadapi tantangan, terutama dari sisi kebersihan, konsistensi produksi, hingga pengemasan.
Melihat potensi tersebut, dosen Program Studi Ilmu Kelautan Universitas Sriwijaya (UNSRI) turun langsung mendampingi masyarakat melalui penerapan teknologi produksi terasi rebon yang lebih higienis dan terukur.
Pendampingan tersebut dilaksanakan pada Sabtu (29/8/2026) melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertema “Pemberdayaan Kelompok Masyarakat Pesisir melalui Penerapan Teknologi Produksi Higienis Terasi Rebon Berbasis Sumber Daya Laut Lokal di Desa Sungsang.”
Kegiatan dipimpin Redho Yoga Nugroho, S.Kel., M.Si., dengan menyasar kelompok masyarakat yang selama ini memiliki keterkaitan erat dengan aktivitas perikanan dan pengolahan hasil laut.
Bagi masyarakat Sungsang, udang rebon bukan sekadar hasil tangkapan laut. Komoditas tersebut memiliki peluang untuk diolah menjadi produk bernilai tambah yang dapat menopang aktivitas ekonomi keluarga.
Karena itu, pendampingan UNSRI tidak hanya berfokus pada bagaimana membuat terasi, tetapi juga bagaimana menghasilkan produk yang lebih bersih, konsisten, aman, dan memiliki tampilan yang lebih siap untuk dikembangkan sebagai produk usaha.
Dalam praktiknya, masyarakat diperkenalkan dengan tahapan produksi mulai dari sortasi dan pencucian bahan baku, penakaran garam, fermentasi, pengeringan, penghalusan, pencetakan hingga pengemasan.
Sejumlah peralatan sederhana yang mendukung proses produksi juga diperkenalkan, di antaranya timbangan digital, wadah food grade, rak pengering tertutup, cetakan, vacuum sealer, serta alat pelindung diri.
Ketua pelaksana kegiatan, Redho Yoga Nugroho, mengatakan sumber daya laut lokal memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah apabila dibarengi peningkatan kapasitas masyarakat.
“Potensi sumber daya laut lokal tidak hanya perlu dimanfaatkan, tetapi juga perlu didukung dengan peningkatan kapasitas masyarakat agar produk yang dihasilkan memiliki kualitas dan daya saing yang lebih baik,” ujarnya.
Menurutnya, penerapan teknologi tidak harus selalu menggunakan peralatan yang rumit dan mahal. Teknologi sederhana yang sesuai dengan kondisi masyarakat justru dapat lebih mudah diterapkan dan dipertahankan dalam kegiatan produksi sehari-hari.
Karena itu, pendampingan juga diarahkan pada aspek di luar proses pembuatan terasi. Masyarakat mendapatkan pemahaman mengenai pengemasan dan pelabelan produk, manajemen usaha sederhana, serta penyusunan standar operasional prosedur (SOP) produksi terasi rebon higienis.
SOP tersebut diharapkan menjadi panduan agar proses produksi dapat dilakukan secara lebih bersih, terukur dan konsisten, sekaligus menjadi langkah awal dalam meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk olahan masyarakat pesisir.
Kegiatan ini melibatkan sejumlah akademisi Ilmu Kelautan UNSRI, yakni Prof. Dr. Rozirwan, S.Pi., M.Sc., Dr. Wike Ayu Eka Putri, S.Pi., M.Si., Rezi Apri, S.Si., M.Si., Ikhlasul Amal, S.Kel., M.Si., serta Amanda Astri Pratiwi Febrianti, S.Kel., M.Si.
Mahasiswa Ilmu Kelautan UNSRI turut dilibatkan dalam kegiatan tersebut. Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian dari pembelajaran berbasis pengalaman sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam mendampingi masyarakat secara langsung.
Program tersebut diharapkan tidak berhenti setelah pelatihan selesai. Masyarakat didorong untuk melanjutkan penerapan SOP, menggunakan peralatan yang telah diperkenalkan, serta mempraktikkan proses produksi secara mandiri.
Pendampingan awal setelah kegiatan juga menjadi bagian penting agar pengetahuan dan teknologi yang diberikan benar-benar dapat diterapkan dalam aktivitas produksi masyarakat.
Dengan langkah tersebut, terasi rebon Sungsang diharapkan tidak hanya tetap bertahan sebagai produk olahan khas masyarakat pesisir, tetapi juga memiliki peluang untuk berkembang menjadi produk dengan kualitas dan nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Melalui pengabdian kepada masyarakat ini, Departemen Ilmu Kelautan UNSRI kembali memperkuat peran perguruan tinggi dalam menjembatani ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat. Potensi laut yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan warga Sungsang didorong untuk diolah secara lebih higienis, produktif, dan bernilai tambah.













