SumselMedia.Com, Lahat-
Dengan langkah perlahan, para atlet disabilitas Kabupaten Lahat bergerak menuju Kantor Bupati Lahat, Selasa (27/10/2026). Seorang atlet berada di atas kursi roda, sementara atlet lainnya berjalan dengan bantuan tongkat. Di balik langkah-langkah itu, tersimpan satu harapan yang sama: mendapatkan kepastian bonus atas perjuangan mereka mengharumkan nama Kabupaten Lahat pada Pekan Paralympic Provinsi (Peparprov) Sumatera Selatan di Musi Banyuasin (Muba) 2025.
Hampir setahun berlalu, bonus yang dinantikan belum juga diterima. Kesabaran yang selama ini dijaga akhirnya mendorong mereka turun langsung menyampaikan aspirasi melalui aksi damai di pelataran Kantor Bupati Lahat. Bukan untuk mengejar medali, melainkan memperjuangkan penghargaan atas prestasi yang telah mereka persembahkan bagi daerah.
Aksi yang dipimpin Ketua National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Kabupaten Lahat, M. Soleh, itu mendapat dukungan langsung dari Ketua NPCI Sumatera Selatan, Rian Yohwari, bersama para ketua NPCI kabupaten/kota se-Sumsel. Kehadiran mereka menjadi bukti solidaritas sekaligus dukungan terhadap perjuangan atlet disabilitas Lahat yang selama ini menantikan kepastian bonus.
Aksi damai tersebut akhirnya membawa titik terang. Pemerintah Kabupaten Lahat berkomitmen merealisasikan bonus atlet dan pelatih berprestasi NPCI Lahat melalui pencairan secara bertahap.
Aksi tersebut diterima Sekretaris Daerah Kabupaten Lahat, Dr. Ir. H. Izromaita, M.Si. Dialog kemudian berlangsung dengan melibatkan Bappeda Lahat, Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Lahat, Inspektorat Lahat, Kasat Intel Polres Lahat, serta jajaran terkait lainnya.
Dalam pertemuan tersebut, pemerintah daerah menjelaskan bahwa kondisi fiskal yang sedang menghadapi tekanan membuat pencairan bonus direncanakan dalam dua tahap. Sebanyak 50 persen akan dialokasikan pergeseran anggaran Tahun anggaran 2026 sedangkan 50 persen sisanya direncanakan melalui APBD Induk Tahun Anggaran 2027.
Bagi para atlet, komitmen tersebut menjadi secercah harapan setelah penantian panjang yang menguras kesabaran. Meski belum seluruh bonus langsung diterima, setidaknya perjuangan mereka kini mendapatkan respons dan skema penyelesaian yang lebih jelas.
Bukan Sekadar Medali, Ada Kebutuhan Hidup yang Menanti

Di balik medali yang pernah mereka perjuangkan, kehidupan para atlet terus berjalan. Mereka tetap membutuhkan biaya untuk berlatih, menjaga kondisi fisik, membeli vitamin, memenuhi kebutuhan sehari-hari, hingga membantu keluarga.
Bagi sebagian atlet, bonus tersebut bahkan diharapkan dapat meringankan beban utang yang terpaksa ditanggung selama menjalani kehidupan dan mempersiapkan diri menghadapi pertandingan.
Ketua NPCI Lahat, M. Soleh, mengaku bersyukur atas komitmen yang akhirnya disampaikan pemerintah daerah. Ia menyampaikan terima kasih kepada Pemkab Lahat yang telah membuka ruang dialog dan berkomitmen memperjuangkan realisasi bonus atlet dan pelatih berprestasi.
“Terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Lahat yang akhirnya berkomitmen merealisasikan bonus atlet kami. Bonus ini sangat dinantikan. Bagi para atlet, bonus tersebut bukan hanya untuk mendukung latihan dan membeli vitamin, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, membantu keluarga, bahkan membayar utang yang selama ini menjadi beban mereka,” ujar Soleh.
Menurutnya, perjuangan seorang atlet tidak selesai ketika pertandingan berakhir. Di luar arena, mereka tetap harus menghadapi kebutuhan hidup sekaligus menjaga semangat untuk terus berlatih dan meningkatkan prestasi.
Karena itu, kepastian pembayaran bonus sangat berarti bagi para atlet disabilitas yang telah membawa nama Kabupaten Lahat di tingkat provinsi.
Soleh juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh atlet dan pelatih yang tetap kompak selama memperjuangkan bonus tersebut. Ia menilai kebersamaan menjadi kekuatan penting dalam menghadapi persoalan yang selama ini belum menemukan penyelesaian.
“Terima kasih kepada seluruh atlet dan pelatih yang tetap solid. Terima kasih juga kepada Ketua NPCI Sumsel, Bapak Rian Yohwari, serta seluruh ketua NPCI kabupaten/kota se-Sumsel yang telah memberikan dukungan. Kehadiran mereka menjadi semangat tersendiri bagi kami untuk terus memperjuangkan hak dan kepastian bonus atlet,” katanya.
Solidaritas NPCI se-Sumsel: Ketika Satu Daerah Berjuang, yang Lain Merapatkan Barisan
Dukungan NPCI se-Sumsel bukan muncul tanpa alasan. Sebelumnya, Ketua NPCI Sumsel, Rian Yohwari, telah mendorong agar persoalan bonus diselesaikan melalui komunikasi dan dialog yang santun. Namun, ia juga menegaskan bahwa perjuangan atlet perlu mendapatkan respons nyata dari pemerintah daerah.
Kini, Rian hadir langsung bersama para ketua NPCI kabupaten/kota untuk mendampingi atlet Lahat menyampaikan aspirasi mereka.
Bagi Rian, momentum tersebut menunjukkan bahwa solidaritas bukan sekadar slogan organisasi. Kebersamaan harus hadir ketika sesama atlet disabilitas menghadapi persoalan yang menyangkut penghargaan atas perjuangan dan prestasi mereka.
“Alhamdulillah, akhirnya perjuangan atlet disabilitas Lahat untuk memperjuangkan bonus prestasi mereka mendapatkan titik terang. Tadi sudah dibahas bersama Sekda Lahat, Bappeda, Inspektorat, Dispora, Kasat Intel Polres Lahat, dan jajaran terkait. Pemerintah daerah berkomitmen merealisasikan bonus tersebut secara bertahap,” ujar Rian.
Ia menyampaikan terima kasih kepada seluruh atlet, pelatih, Ketua NPCI Lahat, serta para ketua NPCI kabupaten/kota se-Sumsel yang telah memberikan dukungan dan menjaga kekompakan selama proses perjuangan berlangsung.
Rian menegaskan, salah satu nilai yang terus ditanamkan dalam NPCI adalah persatuan dan solidaritas. Para atlet disabilitas yang berasal dari berbagai daerah merupakan bagian dari keluarga besar yang harus saling mendukung.
“Inilah NPCI. Kita menanamkan kekompakan dan solidaritas. Jika ada sahabat atlet disabilitas yang dizalimi, kita akan merapatkan barisan untuk memberikan dukungan. Kita ingin memastikan bahwa perjuangan mereka mendapatkan perhatian dan ada jalan keluar,” tegasnya.
Menurut Rian, dukungan tersebut bukan bertujuan mempertentangkan atlet dengan pemerintah daerah. Sebaliknya, kebersamaan itu diharapkan dapat memperkuat komunikasi dan mendorong penyelesaian persoalan secara baik.
Ia berharap komitmen yang telah disampaikan Pemkab Lahat benar-benar ditindaklanjuti melalui proses penganggaran dan pencairan sesuai tahapan yang direncanakan.
Perjuangan Belum Berakhir, Atlet Menanti Realisasi
Aksi damai di pelataran Kantor Bupati Lahat menjadi babak penting dalam perjuangan para atlet disabilitas. Dari penantian panjang, muncul keberanian untuk menyampaikan aspirasi. Dari perjuangan yang semula dihadapi sendiri, lahir dukungan dari NPCI kabupaten/kota se-Sumsel.
Namun, komitmen anggaran yang disampaikan pemerintah daerah masih harus ditindaklanjuti hingga benar-benar terealisasi.
Sesuai hasil dialog, 50 persen bonus direncanakan melalui ABT 2026, sementara sisanya melalui APBD Induk 2027. Para atlet kini menantikan pelaksanaan komitmen tersebut agar penantian panjang mereka tidak kembali berlarut-larut.
Bagi mereka, bonus itu bukan sekadar angka atau nominal penghargaan. Di baliknya terdapat keringat saat berlatih, perjuangan menghadapi keterbatasan, pengorbanan waktu, serta harapan untuk membantu keluarga dan melanjutkan kehidupan.
Kursi roda yang digunakan salah seorang atlet, tongkat yang membantu langkah atlet lainnya, serta berbagai perjuangan yang mereka hadapi menjadi bagian dari perjalanan masing-masing. Namun, di pelataran Kantor Bupati Lahat, mereka berkumpul dalam satu tujuan: memperoleh kepastian atas penghargaan yang telah lama dinantikan.
Kini, perjuangan itu memasuki tahap berikutnya. Solidaritas telah ditunjukkan, dialog telah berlangsung, dan komitmen telah disampaikan. Para atlet berharap langkah tersebut segera berujung pada realisasi pembayaran bonus.
Sebab, setelah berjuang mengharumkan nama Kabupaten Lahat di arena pertandingan, mereka juga berharap pengorbanan dan prestasi mereka dihargai melalui komitmen yang benar-benar ditepati.













