Olahraga

Atlet Disabilitas Disebut Bikin Malu, M Soleh Meledak! Solidaritas NPCI Sumsel Menguat, Wali Kota Lubuk Linggau Didesak Minta Maaf

×

Atlet Disabilitas Disebut Bikin Malu, M Soleh Meledak! Solidaritas NPCI Sumsel Menguat, Wali Kota Lubuk Linggau Didesak Minta Maaf

Sebarkan artikel ini
(M Soleh, Atlet Nasional Anggar Kursi Roda NPCI Sumsel)

SumselMedia.Com, Palembang-

Polemik pernyataan yang diduga disampaikan Wali Kota Lubuk Linggau, H. Rachmat Hidayat, M.I.Kom., kepada atlet disabilitas asal Lubuk Linggau, Mila Purnama Sari, berbuntut panjang.

Mila sendiri merupakan atlet asal NPCI Lubuklinggau yang kerap mempersembahkan medali, baik event tingkat provinsi maupun nasional. Beberapa kali, ia kerap memperkuat Kontingen Sumatera Selatan di multi event olahraga disabilitas terbesar Tanah Air

Ungkapan “bikin malu” yang diduga ditujukan kepada Mila setelah dirinya menyuarakan persoalan bonus atlet kini menuai reaksi dari kalangan atlet disabilitas Sumatera Selatan.

Kali ini, suara solidaritas datang dari Wakil Ketua Bidang Organisasi NPCI Sumatera Selatan, M Soleh. Ia menyayangkan jika benar seorang atlet disabilitas harus menerima respons seperti itu ketika menyampaikan keluh kesah terkait penghargaan atas perjuangannya.

M Soleh bukan sosok sembarangan di dunia olahraga disabilitas. Atlet cabang olahraga anggar tersebut merupakan peraih medali terbanyak pada ajang Peparnas XVII Solo 2024.

“Mewakili para atlet NPCI kabupaten/kota di Sumatera Selatan, kami menyesalkan jika benar isi pesan Wali Kota Lubuk Linggau yang mengatakan salah satu atlet berinisial M bikin malu karena cuitannya,” ujar M Soleh.

Menurutnya, apa yang disampaikan Mila merupakan bentuk keluh kesah seorang atlet yang merasa harapan terhadap bonus penghargaan belum sesuai dengan kenyataan.

Ia sangat memahami kondisi fiskal berbagai daerah saat ini sedang mengalami tekanan. Namun, kondisi tersebut semestinya tidak menjadi alasan untuk merespons aspirasi atlet disabilitas dengan perkataan yang berpotensi melukai hati mereka.

Terlebih, atlet disabilitas merupakan para pejuang daerah yang telah mengorbankan waktu, tenaga, dan kemampuan demi mengharumkan nama daerah melalui prestasi olahraga.

“Kami sangat memahami kondisi fiskal di berbagai daerah memang sedang mengalami tekanan. Tetapi, jangan sampai merespons keluh kesah atlet disabilitas yang juga pahlawan daerah dengan pernyataan yang kurang berkenan, apalagi jika disampaikan oleh seorang kepala daerah,” tegasnya.

M Soleh menilai, persoalan bonus bukan semata-mata tentang nominal uang. Ada perjuangan, pengorbanan, dan harapan atlet yang perlu dihargai. Karena itu, kejelasan dan komunikasi yang baik dari pemerintah menjadi hal penting.

Ia pun mendesak agar Wali Kota Lubuk Linggau segera membuka ruang dialog dengan Mila Purnama Sari beserta perwakilan atlet terkait.

Menurutnya, pertemuan tersebut harus segera dilakukan agar persoalan tidak semakin berlarut-larut dan hubungan antara atlet dengan pemerintah daerah tetap terjaga.

Tak hanya itu, M Soleh juga berharap Wali Kota Lubuk Linggau memberikan klarifikasi sekaligus menyampaikan permohonan maaf apabila pesan yang beredar tersebut benar berasal darinya dan telah melukai perasaan atlet disabilitas.

“Kami berharap ada pertemuan dan penyelesaian secara baik-baik. Jika memang ada perkataan yang melukai perasaan atlet, kami meminta agar Wali Kota Lubuk Linggau berkenan menyampaikan permohonan maaf,” ungkapnya, Senin (2/11/2026).

Ia menegaskan, solidaritas antaratlet disabilitas di Sumatera Selatan tidak boleh dipandang sebelah mata. Menurutnya, perjuangan seorang atlet bukan hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi juga menjadi bagian dari perjuangan seluruh keluarga besar NPCI.

M Soleh mengatakan, pihaknya akan menunggu arahan Ketua NPCI Sumatera Selatan, Rian Yohwari, terkait langkah organisasi dalam menyikapi persoalan tersebut.

“Jika tidak ada penyelesaian, kami menunggu arahan Bapak Rian Yohwari selaku Ketua NPCI Sumatera Selatan untuk mengambil sikap. Ini menyangkut persatuan dan solidaritas kami. Jika ada atlet disabilitas yang merasa terzalimi, tentu kami tidak bisa tinggal diam,” pungkasnya.

Sebelumnya, Mila Purnama Sari mencurahkan isi hatinya melalui akun sosial medianya setelah mengaku sedih dengan pesan yang diduga dikirimkan Wali Kota Lubuk Linggau.

Dalam unggahannya, Mila mengaku terpukul setelah membaca pesan yang menyebut dirinya “bikin malu”. Ia menegaskan bahwa dirinya dan para atlet bukan tidak bersyukur atas perhatian pemerintah.

Namun, Mila mempertanyakan kepastian bonus yang menurutnya mengalami perubahan nominal setelah pertandingan selesai. Ia juga membantah anggapan bahwa dirinya tidak menghargai upaya pemerintah.

Mila menegaskan, yang diperjuangkan para atlet adalah kejelasan dan kepastian atas penghargaan yang telah dinantikan.

Pesan yang diduga berasal dari Wali Kota Lubuk Linggau tersebut turut menyinggung kondisi fiskal daerah, membandingkan pemberian bonus dengan daerah lain, serta menyebut bonus telah dikeluarkan. Sementara itu, Mila mengaku belum menerima sepeser pun bonus tersebut.

Polemik ini pun menjadi ujian bagi komunikasi pemerintah daerah dengan para atletnya. Sebab, di balik medali dan prestasi yang mengharumkan nama daerah, ada perjuangan panjang para atlet disabilitas yang juga ingin dihargai dan didengarkan.