SumselMedia.Com, Palembang-
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Selatan menilai Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan perlu lebih serius mengembangkan sektor pariwisata sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru. Salah satu potensi yang dinilai belum tergarap maksimal adalah kawasan Sungai Musi dengan ikon Jembatan Ampera yang dapat dikembangkan sebagai destinasi wisata susur sungai.
Kepala BPS Provinsi Sumatera Selatan, Moh. Wahyu Yulianto, mengatakan Sumatera Selatan memiliki modal wisata yang kuat. Selain Jembatan Ampera yang berada di jantung Kota Palembang, kawasan tepian Sungai Musi juga memiliki sejumlah destinasi bersejarah seperti Benteng Kuto Besak, Kampung Kapitan, hingga Kampung Al Munawar yang dapat diintegrasikan menjadi satu paket wisata.
“Kita punya Jembatan Ampera, itu potensi luar biasa. Mungkin kita perlu belajar dari Malaysia yang juga menjual pariwisata melalui susur sungai,” ujar Wahyu dalam keterangan persnya usai kegiatan BRS, Senin (3/8/2026).
Menurutnya, sektor pariwisata layak menjadi salah satu fokus pembangunan ekonomi Sumatera Selatan karena selama ini struktur ekonomi daerah masih didominasi sektor pertanian, pertambangan, serta minyak dan gas, sehingga memang infsatruktur pariwisata perlu diperkuat.
Ia menjelaskan, pariwisata memiliki efek berganda (multiplier effect) yang luas karena mampu menggerakkan berbagai sektor usaha secara bersamaan, mulai dari transportasi, perhotelan, kuliner, perdagangan, ekonomi kreatif hingga usaha mikro dan kecil.
Di sisi lain, Wahyu menyoroti adanya paradoks dalam perkembangan pariwisata Sumatera Selatan. Berdasarkan data BPS, jumlah perjalanan wisatawan nusantara ke Sumatera Selatan meningkat signifikan dari 6,82 juta perjalanan pada 2021 menjadi 26,06 juta perjalanan pada 2025. Namun, peningkatan tersebut belum diikuti dengan bertambahnya lama wisatawan menginap.
Rata-rata lama menginap (RLMT) tamu di hotel berbintang justru turun dari 1,56 malam pada 2021 menjadi 1,35 malam pada 2025. Sementara pada hotel nonbintang turun dari 1,52 malam menjadi 1,16 malam.
“Itu memang menjadi tantangan ya, kita memang belum dalami mengapa lama tinggal masih seperti itu, tapi sebetulnya itu tidak hanya di Sumsel tapi hampir setiap daerah,” urainya.
Sementara itu, data BPS pada Juni 2026 menunjukkan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Sumatera Selatan mencapai 849 kunjungan. Jumlah perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) tercatat sebanyak 2,20 juta perjalanan atau turun 1,40 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Dari total perjalanan tersebut, sekitar 23 persen berasal dari luar Sumatera Selatan, sedangkan sisanya merupakan perjalanan antarkabupaten/kota di dalam provinsi.
Secara kumulatif, selama Januari hingga Juni 2026 jumlah perjalanan wisatawan nusantara tujuan Sumatera Selatan mencapai 13,10 juta perjalanan atau turun 1,61 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025.
Di sektor akomodasi, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang pada Juni 2026 mencapai 55,16 persen dengan rata-rata lama menginap tamu sebesar 1,46 malam. Sementara TPK hotel nonbintang dan akomodasi lainnya tercatat 27,24 persen dengan rata-rata lama menginap 1,17 malam.
Melihat kondisi tersebut, BPS menilai pengembangan destinasi yang mampu menghadirkan pengalaman wisata lebih beragam menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan lama tinggal wisatawan. Optimalisasi kawasan Sungai Musi melalui wisata susur sungai yang terintegrasi dengan destinasi sejarah, budaya, kuliner, dan ekonomi kreatif dinilai berpotensi meningkatkan daya saing pariwisata Sumatera Selatan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.













