Ekobis

Di Tengah Ancaman El Nino, BI Sumsel Jaga Stabilitas Harga dan Kendalikan Inflasi

×

Di Tengah Ancaman El Nino, BI Sumsel Jaga Stabilitas Harga dan Kendalikan Inflasi

Sebarkan artikel ini
(Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan, Bambang Pramono)

SumselMedia.com, Palembang-

Di tengah ancaman fenomena El Niño yang berdampak pada produksi pangan, Bank Indonesia (BI) Provinsi Sumatera Selatan bersama Pemerintah Daerah dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) berhasil menjaga stabilitas harga serta mengendalikan laju inflasi di Sumatera Selatan sepanjang Juni 2026.

Pada Juni 2026, inflasi Sumatera Selatan tercatat sebesar 0,36 persen secara bulanan (month to month/mtm), lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 0,61 persen (mtm). Sementara itu, secara tahunan inflasi mencapai 2,89 persen (year on year/yoy), meningkat dari 2,61 persen (yoy) pada Mei 2026, sejalan dengan tren inflasi nasional yang berada di angka 3,34 persen (yoy).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan, Bambang Pramono, mengatakan capaian tersebut menunjukkan stabilitas harga di Sumsel tetap terjaga berkat sinergi yang kuat antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, dan TPID.

“Stabilitas harga yang terjaga mencerminkan efektivitas sinergi pengendalian inflasi di daerah, sehingga mampu menjaga keseimbangan antara kesejahteraan produsen sekaligus mempertahankan daya beli masyarakat,” ujar Bambang.

Ia menjelaskan, inflasi pada Juni terutama dipengaruhi kenaikan harga bensin, bawang putih, tomat, bawang merah, dan beras. Penyesuaian harga BBM nonsubsidi per 10 Juni 2026 menjadi salah satu faktor pendorong inflasi.

Sementara itu, kenaikan harga komoditas hortikultura dipicu berkurangnya pasokan akibat fenomena El Niño yang menyebabkan penurunan produksi. Tekanan inflasi juga meningkat seiring bertambahnya mobilitas masyarakat dan konsumsi rumah tangga selama masa libur sekolah.

Meski demikian, tekanan inflasi berhasil diredam oleh penurunan harga emas, serta normalisasi harga daging ayam ras dan telur ayam ras setelah penghentian sementara operasional Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama libur sekolah.

Bank Indonesia memperkirakan tekanan inflasi pada Juli 2026 masih berpotensi meningkat seiring dimulainya tahun ajaran baru yang biasanya mendorong kenaikan permintaan pada kelompok pendidikan dan transportasi. Selain itu, dampak lanjutan penyesuaian harga BBM nonsubsidi dan musim kemarau yang diperkirakan lebih kering juga berpotensi mengganggu produksi komoditas hortikultura.

Untuk menjaga stabilitas harga, TPID Sumatera Selatan terus memperkuat strategi pengendalian inflasi berbasis 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif.

Hingga akhir Juni 2026, telah dilaksanakan lebih dari 358 kegiatan Operasi Pasar Murah, Gerakan Pangan Murah (GPM), dan Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di berbagai wilayah Sumatera Selatan. Selain itu, puluhan inspeksi mendadak (sidak) pasar juga dilakukan untuk memastikan ketersediaan stok dan kepatuhan terhadap harga eceran tertinggi.

BI Sumsel juga memperkuat distribusi pangan melalui program subsidi ongkos angkut. Hingga Juni 2026, sebanyak 77 kali fasilitasi subsidi ongkos angkut telah diberikan untuk mengangkut sekitar 47,92 ton komoditas pangan, sehingga pasokan tetap tersedia dengan harga yang terjangkau bagi masyarakat.

Di sisi pasokan, kerja sama antar daerah (KAD) terus dioptimalkan. BI Sumsel bersama pemerintah daerah merealisasikan pengadaan bibit bawang merah dari Kabupaten Demak, Jawa Tengah, untuk pengembangan lahan demonstration plot (demplot) di Kota Pagar Alam.

Hingga Juni 2026, realisasi KAD juga mencatat pasokan 22,67 ton bawang merah dari Sumatera Barat dan 3,68 ton cabai dari Jawa Tengah. Selain itu, telah ditandatangani 8 Kesepakatan Bersama (KSB) dan 21 Perjanjian Kerja Sama (PKS) antarpemerintah daerah (G2G), serta 4 PKS antarpelaku usaha (B2B) guna memperkuat ketahanan pangan dan distribusi komoditas strategis.

Koordinasi pengendalian inflasi juga terus diperkuat melalui rapat rutin TPIP dan TPID, komunikasi kebijakan, publikasi jadwal operasi pasar, hingga studi tiru bersama TPID Sulawesi Selatan ke TPID Jawa Tengah untuk mempelajari berbagai inovasi pengendalian inflasi sesuai karakteristik masing-masing daerah.

Selain itu, penguatan ketahanan pangan daerah terus didorong melalui Program Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP) yang pada tahun ini diperluas melalui kolaborasi dengan pesantren dan koperasi sebagai bagian dari penguatan ekosistem produksi dan distribusi pangan.

“Ke depan, Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan bersama pemerintah daerah akan terus memperkuat sinergi pengendalian inflasi guna menjaga stabilitas harga, meningkatkan ketahanan pangan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Upaya ini juga menjadi bagian dari dukungan terhadap program prioritas nasional, termasuk Program Makan Bergizi Gratis,” tutup Bambang.