Ekobis

Kunjungan Wisman ke Sumsel Melonjak 361 Persen, BPS Soroti Tantangan Lama Tinggal dan Kualitas Pariwisata

×

Kunjungan Wisman ke Sumsel Melonjak 361 Persen, BPS Soroti Tantangan Lama Tinggal dan Kualitas Pariwisata

Sebarkan artikel ini
(Kepala BPS Sumatera Selatan, Moh. Wahyu Yulianto saat menyampaikan paparan)

SumselMedia.Com, Palembang-

Sektor pariwisata Sumatera Selatan menunjukkan pertumbuhan signifikan sepanjang Juli 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Selatan mencatat jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) mencapai 942 kunjungan, meningkat 10,95 persen dibandingkan Juni 2026.

Lonjakan tersebut bahkan jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Jumlah kunjungan wisman pada Juli 2026 tercatat meningkat 361,76 persen dibandingkan Juli 2025.

Kepala BPS Sumatera Selatan, Moh. Wahyu Yulianto, mengatakan peningkatan jumlah kunjungan tersebut menjadi sinyal positif bagi perkembangan sektor pariwisata Sumsel. Namun, menurutnya, besarnya angka kunjungan belum serta-merta menggambarkan kualitas pariwisata secara keseluruhan.

“Secara kualitas pariwisata kami belum tahu, apakah menuju titik tertentu, apakah Pagaralam atau di mana. Itu yang masih perlu kita lihat lebih lanjut,” ujar Wahyu, Selasa (1/9/2026).

Selain wisatawan mancanegara, aktivitas perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) juga menunjukkan angka yang cukup besar. BPS mencatat jumlah perjalanan wisnus di Sumatera Selatan pada Juli 2026 mencapai sekitar 2,21 juta perjalanan.

Angka tersebut menunjukkan bahwa pergerakan masyarakat untuk melakukan perjalanan di dalam negeri, termasuk di wilayah Sumatera Selatan, memiliki potensi besar untuk mendorong aktivitas ekonomi sektor pariwisata, mulai dari akomodasi, kuliner, transportasi hingga ekonomi kreatif.

Namun demikian, BPS melihat masih terdapat tantangan mendasar yang perlu menjadi perhatian pemerintah daerah dan pelaku industri pariwisata, terutama terkait lama tinggal wisatawan.

Wahyu mengungkapkan, lama tinggal wisatawan di Sumsel saat ini masih berada pada kisaran satu hingga dua malam. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Sumatera Selatan masih menghadapi pekerjaan rumah untuk membuat wisatawan tidak hanya datang, tetapi juga bertahan lebih lama dan membelanjakan lebih banyak uang selama berada di daerah.

“Lama tinggal juga masih di level satu hingga dua malam,” katanya.

Persoalan tersebut juga tercermin dari tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang di Sumatera Selatan yang pada Juli 2026 mencapai 52,97 persen.

Menurut Wahyu, angka okupansi hotel tersebut belum sepenuhnya dapat dimaknai sebagai tingginya aktivitas wisata. Sebab, tingkat hunian hotel di Sumsel masih banyak ditopang oleh aktivitas nonpariwisata, seperti kegiatan pemerintahan, rapat, pelatihan maupun berbagai kegiatan kelembagaan.

“Karena tingkat hunian kamar di Sumsel itu ditopang bukan dari wisatawan, tetapi dari kegiatan-kegiatan pemerintahan atau pelatihan-pelatihan,” ungkapnya.

Kondisi tersebut menjadi catatan penting di tengah pertumbuhan angka kunjungan wisatawan. Artinya, tantangan pariwisata Sumsel ke depan bukan hanya bagaimana meningkatkan jumlah orang yang datang, tetapi juga bagaimana mengubah kunjungan menjadi aktivitas wisata yang berkualitas dan berdampak terhadap perekonomian daerah.

Sumsel memiliki sejumlah destinasi dengan karakter berbeda, mulai dari wisata alam di Pagaralam dan kawasan pegunungan, wisata budaya dan sejarah di Palembang, hingga potensi wisata berbasis sungai, kuliner, olahraga, dan ekonomi kreatif. Potensi tersebut dinilai perlu dikemas menjadi rangkaian pengalaman wisata yang mampu membuat wisatawan memperpanjang masa tinggal.

Dengan demikian, pertumbuhan jumlah wisman dan jutaan perjalanan wisnus dapat memberikan multiplier effect yang lebih besar bagi masyarakat. Bukan hanya meningkatkan okupansi hotel, tetapi juga menggerakkan restoran, transportasi, UMKM, pusat oleh-oleh, pelaku ekonomi kreatif hingga sektor jasa lainnya.

Data BPS sekaligus memberikan gambaran bahwa Sumsel sudah memiliki pasar wisata yang besar, tetapi pekerjaan berikutnya adalah meningkatkan kualitas ekosistem pariwisatanya.

Kenaikan kunjungan wisman hingga 361,76 persen secara tahunan menjadi momentum penting. Namun, indikator keberhasilan pariwisata ke depan idealnya tidak berhenti pada berapa banyak wisatawan yang datang, melainkan juga berapa lama mereka tinggal, ke mana mereka pergi, berapa besar pengeluaran mereka, dan seberapa besar manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat lokal.

Jika tantangan tersebut dapat dijawab melalui penguatan destinasi, konektivitas, promosi yang lebih terarah, kalender kegiatan wisata yang konsisten serta paket perjalanan yang menghubungkan berbagai destinasi, maka pertumbuhan kunjungan wisatawan berpeluang memberikan dampak ekonomi yang jauh lebih besar bagi Sumatera Selatan.