SumselMedia.Com, Palembang-
Matahari pagi merekah di Bumi Sriwijaya. Di hadapannya, Lianto menatap layar monitor yang menampilkan pergerakan investasi reksa dananya. Bagi sebagian orang, ini mungkin rutinitas biasa, namun baginya, dari kebiasaan kecil inilah ketenangan finansial itu perlahan tumbuh.
Seiring lonjakan investor pasar modal yang telah menembus ratusan ribu di Sumatera Selatan, langkah sederhana itu menjelma menjadi bagian dari gelombang besar kesadaran finansial masyarakat.
Sementara itu, di tengah lalu lintas kota yang mulai padat, ada satu kebiasaan kecil yang kini tak lagi ia tunda: mengecek catatan keuangan, memastikan ada yang disisihkan sebelum hari benar-benar habis.
Bagi sebagian orang, itu hal sepele.
Bagi Lianto, itu adalah cara baru memandang hidup. Sebagai karyawan swasta, ritme hari-harinya nyaris tak berubah. Namun di balik itu, ia menyadari satu hal: uang yang disimpan tidak berkembang.
“Titik baliknya saat saya sadar, menabung saja tidak cukup. Nilai uang terus tergerus inflasi,” tutur Lianto saat bercerita tentang kesadaran untuk memilih investasi reksa dana yang ia ikuti kepada sumselmedia.com, Rabu (29/4/2026).
Belajar dari Ketakutan, Bertahan untuk Tujuan
Awalnya ia ragu. Takut rugi, tidak paham, dan bingung memulai. Namun ia memilih belajar. Dari itu, ia mulai memahami bahwa investasi bukan soal cepat untung, melainkan soal konsistensi. “Saya tetap fokus ke tujuan jangka panjang,” katanya.
Ia juga pernah tergoda tren investasi yang menjanjikan keuntungan cepat. “Kalau terlalu bagus untuk jadi kenyataan, biasanya memang tidak realistis,” ucapnya.
Kini, ia lebih disiplin, memiliki tujuan, dan merasa lebih tenang dalam mengelola keuangan. Menatap masa depan, dengan penuh ketenangan, melalui reksa dana.

Lonjakan Investor: Kesadaran Baru atau Euforia?
Fenomena ini sejalan dengan meningkatnya jumlah investor di Indonesia, termasuk di Sumatera Selatan. Yudi Purnawan, Branch Manager PT Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Palembang menyebut, bahwa peningkatan ini dipengaruhi kesadaran dan kebutuhan hidup. “Masyarakat mulai mencari alternatif sumber pendapatan selain gaji,” ujarnya.
Namun ia mengingatkan risiko jika tanpa pemahaman. Investor yang tidak paham cenderung emosional dan bisa mengalami kerugian hingga trauma.
Tanpa literasi yang memadai, pertumbuhan investor justru berpotensi melahirkan gelombang kerugian baru yang dapat merusak kepercayaan masyarakat terhadap investasi itu sendiri.
Sumsel Bertumbuh, OJK Perkuat Literasi dan Perlindungan
Arifin Susanto, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumatera Selatan mengungkapkan, nilai investasi reksa dana di Sumatera Selatan telah mencapai sekitar Rp597,65 miliar dengan 52.245 investor. “Ini menunjukkan minat masyarakat terhadap instrumen yang aman dan terjangkau semakin meningkat,” ujarnya.
Mayoritas masih didominasi investor ritel. Secara keseluruhan, jumlah investor pasar modal di Sumatera Selatan telah mencapai lebih dari 553 ribu SID, dengan Palembang sebagai kontributor terbesar.
Namun, tantangan literasi masih menjadi pekerjaan rumah utama.
“OJK terus mendorong edukasi yang masif, memastikan masyarakat berinvestasi sesuai profil risiko, serta hanya melalui lembaga berizin,” tegasnya.
Ia menambahkan, reksa dana juga berkontribusi terhadap ekonomi daerah.
“Ini membantu masyarakat membangun perencanaan keuangan yang lebih sehat, bahkan bagi UMKM sebagai cadangan likuiditas,” jelasnya.

Edukasi Masif: Dari SOSEDU hingga Pekan Reksa Dana
Gresia Kusyanto, Ketua Panitia Sosialisasi dan Edukasi Reksa Dana (SOSEDU) 2026 yang juga merupakan Pengurus Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI), menegaskan pentingnya edukasi untuk membentuk investor rasional. “Banyak investor pemula belum memahami profil risiko dan berharap hasil instan,” ujarnya.
Fakta-fakta inilah yang mendasari APRDI mulai melakukan kampanye SOSEDU di tahun 2026 dengan melakukan sosialisasi edukasi berkelanjutan tentang reksa dana dan memulainya dengan mengkampanyekan reksa dana pasar uang yang akan menjadi entry point yang sangat baik untuk mengubah pola pikir semua investor dan masyarakat luas.
Pernyataan tersebut disampaikannya saat sosialisasi di Kantor OJK Sumatera Selatan, Palembang pada Kamis (23/4/2026).
Acara ini merupakan bagian dari sosialisasi program SOSEDU 2026 serta program PINTAR (Program Investasi Terencana dan Berkala) Reksa Dana yang digelar di enam kota di Indonesia, termasuk Palembang, sekaligus menyambut puncak Pekan Reksa Dana nasional yang berlangsung pada 27 April hingga 3 Mei 2026.
“Kami meyakini bahwa SOSEDU ini akan memberikan dampak nyata dalam perilaku masyarakat dalam berinvestasi, meskipun perubahannya tidak instan tapi akan bertahap. Seperti contohnya: dari spekulatif menjadi rasional, dari sekedar ikut-ikutan menjadi lebih paham terhadap risiko dan tidak mudah tergiur dengan penawaran investasi yang tidak wajar,” harapnya.
Reksa Dana: Pintu Masuk yang Praktis dan Terpercaya
Felisha Wijaya, Manager Investasi PT Sucorinvest Asset Management menyebut, bahwa reksa dana sebagai instrumen yang sederhana. “Seperti gado-gado, terdiri dari berbagai instrumen dalam satu produk,” jelasnya.
Reksa dana pasar uang menjadi pilihan utama pemula karena risiko relatif rendah, likuid, dan fluktuasi minimal.
Instrumen ini dinilai sebagai pintu masuk yang praktis dan terpercaya untuk mulai berinvestasi.
Potensi Besar, Partisipasi Masih Rendah
M. Maulana, Kepala Departemen Pengawasan Pengelolaan Investasi dan Pasar Modal Regional OJK menegaskan, bahwa potensi industri reksa dana di Indonesia masih sangat besar.
Ia menyebut rasio aset kelolaan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) baru sekitar 4,38 persen, jauh tertinggal dari negara-negara lain di kawasan.
“Ini menunjukkan ruang pertumbuhan yang masih sangat luas, namun juga menjadi sinyal bahwa literasi dan partisipasi masyarakat perlu terus diperkuat agar pertumbuhan industri berjalan sehat dan berkelanjutan,” ujarnya.
Sehingga Ia mengapresiasi terobosan yang dilakukan oleh APRDI dengan melakukan SOSEDU 2026 serta program PINTAR menuju rangkaian Pekan Reksa Dana 2026.
BEI: Pertumbuhan Pesat, Edukasi Harus Mengimbangi
Hari Mulyono, Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Provinsi Sumatera Selatan menyebut, tren pertumbuhan investor di daerah cukup signifikan. Namun ia mengingatkan bahwa peningkatan tersebut belum sepenuhnya diiringi pemahaman yang kuat.
“Masih banyak investor pemula yang mengambil keputusan terlebih dahulu, baru kemudian belajar. Ini yang memicu perilaku FOMO,” katanya.
Untuk itu, BEI terus mendorong prinsip 3P: Paham, Punya, Pantau. Investor harus memahami produk dan risiko, memastikan investasi dilakukan secara legal, serta aktif memantau kinerjanya agar tidak salah langkah.
Apalagi, para investor ini cukup merata dalam segi usia di mana kelompok usia 18 sampai dengan 25 tahun mencakup 30%, lalu kelompok usia 26 hingga 30 mencapai 24%, kelompok usia 31 sampai dengan 40 sebesar 26% dan kelompok usia 40 tahun ke atas ada di 20% sebagai sebaran kelompok umur investor pasar modal di Sumatera Selatan.
Memulai dari yang Sederhana dan Terukur
Bagi pemula, investasi tidak harus dimulai dari besar. Reksa dana pasar uang menjadi solusi praktis karena mudah diakses, terjangkau, dan relatif aman.
Namun ada prinsip dasar yang harus dipahami: kenali profil risiko, tentukan tujuan keuangan, dan pastikan produk yang dipilih legal serta diawasi. Langkah sederhana ini menjadi fondasi penting dalam membangun kebiasaan investasi yang sehat dan berkelanjutan.

Investasi Bukan Jalan Pintas
Prof. Dr. Sri Rahayu, Pengamat ekonomi, menilai lonjakan investor saat ini merupakan peluang besar jika diimbangi edukasi. “Sebagian besar didorong oleh literasi dan kemudahan akses. Tapi tanpa pemahaman, risikonya tetap besar,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa kesalahan terbesar masyarakat adalah menganggap investasi sebagai cara cepat kaya. “Padahal yang mengubah masa depan bukan produknya, tapi perilakunya,” tegasnya.
Dari Ketakutan Menuju Ketenangan
Menurut guru besar ekonomi di salah satu Perguruan Tinggi Indonesia tersebut, Lianto adalah gambaran sederhana dari perubahan itu.
Ia tidak memulai dengan besar. Ia pernah ragu. Ia pernah salah.
Namun ia memilih untuk memulai. “Mulai saja dulu. Tidak perlu besar. Yang penting konsisten,” katanya.
Di tengah hiruk-pikuk kota yang tak pernah benar-benar berhenti, langkah kecil itu mungkin tak terlihat.
Namun justru dari situlah masa depan dibangun pelan, konsisten, dan terukur.
Reksa dana, bagi sebagian orang, mungkin hanya instrumen keuangan. Tetapi bagi mereka yang memahami, ia adalah pintu masuk menuju kebiasaan baru: merencanakan, mengendalikan, dan menghargai waktu.
Sebab pada akhirnya, masa depan tidak ditentukan oleh seberapa besar seseorang memulai, tetapi oleh seberapa disiplin ia melangkah dan seberapa sabar ia bertahan.
Dan di tengah derasnya arus informasi serta godaan keuntungan instan, mereka yang bertahan bukanlah yang paling cepat, melainkan yang paling paham dan paling konsisten.













