SumselMedia.Com, Palembang-
Kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ditunjukkan sejumlah komunitas dan insan pariwisata Sumatera Selatan (Sumsel). Bersama-sama, mereka turun ke jalan membagikan sebanyak 5.740 masker gratis kepada masyarakat di Kota Palembang, Kamis (22/10/2026).
Aksi sosial yang melibatkan Asosiasi Travel Agent Indonesia (ASTINDO), Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI), Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Palembang, serta sejumlah pihak lainnya ini dipusatkan di kawasan Simpang Lima DPRD Provinsi Sumsel. Pembagian masker dilakukan di empat persimpangan dengan total sembilan titik distribusi.
Ketua Dewan Pimpinan Daerah Asosiasi Travel Agent Indonesia (DPD ASTINDO) Sumsel, Hendra Oeij, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian insan pariwisata terhadap masyarakat yang menghadapi dampak kabut asap akibat karhutla di sejumlah wilayah Sumsel.
Menurutnya, pembagian masker diharapkan dapat membantu masyarakat mengurangi paparan asap ketika beraktivitas di luar ruangan, sembari menunggu kondisi udara kembali membaik.
“Alhamdulillah, telah terdistribusi sebanyak 5.740 masker dari insan pariwisata Sumsel. Terima kasih tidak terhingga kepada seluruh pihak yang telah mendonasikan masker dan mendukung kegiatan bakti sosial ini,” ujar Hendra saat ditemui di sela-sela kegiatan.
Ia menyampaikan apresiasi kepada keluarga besar ASPPI DPD Sumsel, Politeknik Pariwisata Palembang, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumsel, Polrestabes Palembang melalui Satuan Pengamanan Objek Vital (Pamobvit), Bank Mandiri RCO Sumsel, keluarga besar ASTINDO DPD Sumsel, serta pihak lainnya yang turut membantu menyukseskan kegiatan tersebut.
Hendra menegaskan, aksi berbagi masker ini menjadi wujud nyata kepedulian komunitas pariwisata terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat. Ia berharap kondisi kabut asap segera membaik sehingga aktivitas warga maupun kegiatan ekonomi dapat kembali berjalan normal.
Di sisi lain, Hendra mengungkapkan bahwa kabut asap juga memberikan dampak terhadap industri perjalanan, khususnya jasa agen perjalanan atau travel agent. Gangguan jarak pandang di bandara menyebabkan sejumlah penerbangan mengalami keterlambatan hingga pembatalan.
Kondisi tersebut membuat penumpang harus menyesuaikan kembali jadwal keberangkatan. Sementara itu, agen perjalanan menghadapi peningkatan permintaan pengembalian dana atau refund tiket.
“Kalau dampaknya sudah jelas, penerbangan sudah banyak yang delay dan cancel. Akibatnya, para penumpang atau pengguna jasa penerbangan mengalami penundaan keberangkatan dan pengaturan perjalanan mereka ikut terganggu,” jelasnya.
Ia menerangkan, persoalan tersebut tidak semata-mata disebabkan oleh maskapai penerbangan, melainkan juga kondisi jarak pandang di bandara yang belum memadai akibat kabut asap. Situasi ini dapat menghambat proses lepas landas maupun pendaratan pesawat demi menjaga keselamatan penerbangan.
Bagi agen perjalanan, dampaknya tidak berhenti pada perubahan jadwal. Proses refund tiket juga menjadi tantangan tersendiri karena dana yang telah digunakan untuk pembelian tiket tidak dapat langsung dikembalikan ke saldo agen.
“Setelah tiket dibuat, saldo kami langsung terpotong. Ketika penumpang batal berangkat, uang tersebut tidak bisa langsung kembali. Proses refund bisa memakan waktu satu hingga dua bulan. Tiket memang tetap diproses pengembaliannya, tetapi masa tunggu itulah yang cukup memberatkan kami,” ungkap Hendra.
Dalam kondisi tertentu, agen perjalanan juga harus menyiapkan alternatif transportasi bagi pelanggan agar perjalanan tetap dapat dilakukan. Misalnya, bagi penumpang yang hendak menuju Jakarta, perjalanan darat melalui Palembang-Lampung-Jakarta dapat menjadi pilihan alternatif dengan memanfaatkan jalur tol.
Hendra menambahkan, pelaku usaha travel agent harus membantu pelanggan mengatur ulang perjalanan agar kebutuhan mereka tetap terakomodasi di tengah ketidakpastian jadwal penerbangan.
Meski menghadapi dampak terhadap bisnis, insan pariwisata Sumsel tetap berupaya memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Hendra mengatakan, kegiatan pembagian masker berpeluang kembali dilaksanakan apabila kabut asap belum mereda dan dukungan dari para donatur masih tersedia.
Ke depan, pembagian masker juga berpotensi menyasar sekolah-sekolah maupun lokasi lain yang membutuhkan bantuan sehingga manfaat kegiatan sosial tersebut dapat dirasakan lebih luas.
“Kami dari asosiasi dan komunitas pariwisata tentu akan terus mendukung. Jika kondisi ini belum membaik dan masih ada dukungan, kami siap melaksanakan kegiatan serupa di titik-titik lain. Apabila pemerintah mengajak kami untuk turun bersama membantu masyarakat, tentu kami siap berkolaborasi,” tegasnya.
Ia juga mengimbau pemerintah agar terus mengintensifkan upaya penanganan karhutla di sejumlah wilayah Sumsel sehingga kabut asap dapat segera diatasi.
Menurutnya, penanganan yang cepat dan tepat sangat penting, bukan hanya untuk melindungi kesehatan masyarakat, tetapi juga menjaga keberlangsungan aktivitas ekonomi, termasuk sektor transportasi dan pariwisata.
Menutup keterangannya, Hendra berharap karhutla di Sumsel segera berakhir sehingga kualitas udara kembali membaik, penerbangan berlangsung normal, dan aktivitas masyarakat serta pelaku usaha pariwisata dapat kembali berjalan lancar.
“Kami semua di asosiasi dan komunitas pariwisata berdoa agar karhutla yang terjadi saat ini segera pulih seperti sediakala, supaya semuanya bisa kembali berjalan dengan baik dan lancar,” pungkasnya.











