Pendidikan

Belajar Tatap Muka Ditunda, Antara Pasrah Tapi Tak Rela

 

SumselMedia.Com, Palembang-

Para guru, siswa hingga orang tua sempat bergembira usai Pemerintah Daerah akan memberlakukan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) beberapa waktu lalu.

Tapi dengan terpaksa, hal itu menjadi kegembiraan semu, karena PTM harus diombang-ambing oleh gelombang Pandemi Covid-19.

Hal yang paling utama adalah kondisi psikologi siswa, kejenuhan belajar hingga kekhawatiran orang tua dan guru sebagai dampak buruk belajar dalam jaringan (daring) yang telah berjalan lebih dari satu tahun ini.

Tapi dengan alasan kesehatan, dua hari lalu Walikota Palembang H Harnojoyo bersama Dinas Pendidikan dan stakeholder terkait memutuskan PTM ditunda hingga waktu yang belum ditentukan.

Keputusan tersebut membuat para guru sebagai pejuang pendidikan yang langsung bersentuhan dengan kondisi psikologi siswa seperti pasrah tapi tak rela.

Bagaimana tidak, kegembiraan siswa akan PTM akhirnya kembali pupus. Keinginan untuk berjumpa dengan guru, teman sejawat hingga merasakan atmosfer lingkungan sekolah pun harus disimpan dalam-dalam.

“Demi keselamatan semua mungkin ini adalah kebijakan yang terbaik. Namun sebagai seorang guru kami sangat ingin bertatap muka langsung dengan peserta didik,” tutur Apriana Surya, MPd yang merupakan guru di salah satu Sekolah Islam bergengsi di Palembang ini, Rabu (7/7/2021).

Ia mengakui kerinduan PTM siswa kini sudah sangat dirasakan. Apalagi lebih dari satu tahun waktu belajar daring banyak memiliki dampak negatif. Selain kondisi psikologi siswa, juga kedisiplinan hingga lemahnya pemahaman peserta didik terhadap materi belajar.

Sebagai seorang guru, Ia pun tak tinggal diam melihat kondisi siswa dalam belajar daring. Berbagai inovasi dalam proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) terus dilakukan guna menghindari kejenuhan siswa. Sebagaimana yang dihimbau Pemerintah, Dinas Pendidikan hingga sekolah. Mulai dari video pembelajaran yang dibuat oleh guru sendiri, zoom, google meet, Vidio Call.

“Bahkan kami juga mengadakan kunjungan belajar ke rumah siswa yang bermasalah dengan protokol kesehatan,” urainya.

Keluhan pasrah tapi tak rela juga dirasakan oleh Lili Kurniawati SPd SD, salah satu guru sekolah negeri di Palembang. Ia mengakui jika dari sisi guru salam proses belajar daring menurutnya tak ada kendala. Tapi yang menjadi kekhawatiran adalah siswanya.

“Karena kalau anak belajar daring kebanyakan orang tuanya yang lebih berperan. Si anak tambah malas untuk belajar,” terangnya.

Ia berharap kepada Pemerintah Daerah atau yang memiliki otoritas membuka PTM untuk bisa mengkaji. Buka untuk membuka PTM secara massal dan dengan waktu yang lama tapi mekanisme PTM saja yang disesuaikan. Setidaknya dengan waktu PTM yang hanya sedikit bisa memecah kerinduan, mengurai kebosanan dan menambah semangat belajar siswa.

“Jadi kalau menurut Saya, lebih enak tatap muka tapi waktunya saja yang dikurangi dari hari biasa. Biar pun waktunya sedikit anak-anak semangat belajarnya. Mereka kebanyakan sudah pada bosen belajar di rumah,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button