Disusun oleh mahasiswa Departemen Farmasi Universitas Sriwijaya: Azzah Fathinah Lionaila Sya’ban, Syifa Daniyah Ramadhani, Junasta Putra Pamungkas, Dewi Balqis dan Salsabillah Arrahma Tamara Azzahra dengan dosen pembimbing apt. Rafiqah Nur Viviani, S.Farm., M.S.Farm.
Tangan meraih segelas air, tapi mata sudah jatuh lebih dulu ke tandan pisang di meja makan. “Ada pisangnya, pakai ini saja,” pikir banyak orang sebelum menelan obat pagi hari. Mudah, praktis, dan terasa “lebih enak” ketimbang air putih tawar. Kebiasaan ini tampaknya tidak berbahaya, bahkan terasa logis karena pisang adalah buah sehat. Bagi kebanyakan orang, pisang tetap aman dikonsumsi. Namun, pada kondisi tertentu, kandungan kaliumnya perlu diperhatikan.
Di Indonesia, pisang bukan sekadar buah ia adalah bagian dari ritme hidup sehari-hari. Mudah dijangkau, murah, dan dianggap serba bisa. Namun di dunia farmakologi, bahan pangan yang sehat tetap dapat memerlukan perhatian ketika dikonsumsi bersama obat tertentu. Interaksi antara makanan dan obat merupakan fenomena nyata yang berpotensi mengubah efektivitas terapi, bahkan memunculkan efek samping berbahaya.
Pisang Sehat, tetapi Tidak Selalu Netral
Interraksi makanan-obat merupakan isu yang sudah lama dikenal di kalangan profesional kesehatan, tetapi pengetahuan di tingkat masyarakat masih sangat terbatas. Studi yang dilakukan Degefu et al. (2022) di Ethiopia menemukan bahwa pengetahuan tenaga kesehatan pun tentang interaksi makanan-obat tergolong rendah hingga sedang yang mengindikasikan bahwa edukasi di bidang ini perlu diperkuat bahkan di tingkat profesional, apalagi di tingkat masyarakat umum.
Di Indonesia, jarak edukasi ini terasa lebih nyata. Banyak pasien yang tidak pernah diberitahu oleh dokter atau apoteker mengenai makanan apa yang harus dihindari saat mengonsumsi obat tertentu. Sementara itu, sebagian orang menggunakan makanan untuk membantu menelan obat. Kenyataan ini menciptakan risiko tersembunyi yang berulang setiap hari di meja makan jutaan keluarga Indonesia.
Riset oleh Lacruz-Pleguezuelos et al. (2023) bahkan mencatat bahwa pengetahuan tentang interaksi makanan-obat di tataran klinis “masih sangat terbatas” dan sebagian besar terjadi karena kurangnya sumber daya terpadu yang mengintegrasikan bukti-bukti ilmiah terkait interaksi ini.
Kapan Kalium Perlu Diperhatikan?
Pisang dikenal sebagai sumber kalium (potassium) yang baik. Satu buah pisang ukuran sedang mengandung sekitar 422 mg kalium, Sejumlah kalium yang cukup signifikan dari kebutuhan harian sebesar 2.600–3.400 mg. Dalam kondisi normal, konsumsi kalium dari pisang sangat bermanfaat bagi kesehatan jantung dan tekanan darah.
Kewaspadaan diperlukan apabila seseorang mengonsumsi makanan tinggi kalium secara rutin sekaligus menggunakan obat yang dapat meningkatkan kadar kalium darah. Obat-obatan golongan Angiotensin-Converting Enzyme (ACE) inhibitor seperti lisinopril dan kaptopril, serta golongan Angiotensin II Receptor Blocker (ARB) seperti losartan dan valsartan dapat mengurangi pembuangan kalium melalui urine sehingga kadar kalium perlu dipantau pada pasien tertentu.
Kondisi serupa berlaku untuk diuretik hemat kalium (potassium-sparing diuretics) seperti spironolakton. Obat ini bekerja dengan mempertahankan kalium di dalam tubuh sambil membuang natrium. Pasien yang menggunakan spironolakton perlu berkonsultasi mengenai asupan makanan tinggi kalium, termasuk pisang, terutama apabila memiliki gangguan ginjal atau faktor risiko lainnya.
Kondisi ini disebut hiperkalemia. Kadar kalium darah dalam tubuh melampaui batas normal (>5,5 mEq/L). Menurut Lacruz-Pleguezuelos et al. (2023), interaksi makanan-obat (food-drug interactions) adalah fenomena di mana suatu makanan mengubah sifat farmakokinetik atau farmakodinamik suatu obat sehingga secara klinis dapat menghambat maupun memperkuat efek terapeutik obat tersebut. Dalam kasus pisang dengan obat antihipertensi tertentu interaksi ini bersifat farmakodinamik. Asupan kalium dari makanan dapat menambah beban kalium pada pasien yang kemampuan ekskresinya telah menurun akibat penyakit atau obat tertentu.
Siapa yang Perlu Lebih Waspada?
Apa yang terjadi bila kadar kalium darah terlalu tinggi? Gejalanya kerap tidak dramatis di awal. Seseorang mungkin hanya merasakan kelemahan otot ringan, kelelahan, atau mual. Namun bila tidak ditangani, hiperkalemia dapat berlanjut menjadi aritmia (gangguan irama jantung) yang mengancam jiwa.
Risiko ini tidak bersifat teoritis belaka. Pasien-pasien dengan kondisi gagal ginjal kronis, diabetes, atau yang mengonsumsi beberapa jenis obat sekaligus (polifarmasi) berada pada kelompok paling rentan. Ginjal yang sehat memang mampu mengekskresikan kelebihan kalium, namun pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal, kemampuan ini jauh berkurang. Kombinasi konsumsi pisang berlebih dengan obat yang menahan kalium pada pasien semacam ini ibarat menambahkan bahan bakar ke api yang sudah menyala.
Tidak Semua Obat Memiliki Aturan yang Sama
Makanan dapat memengaruhi absorpsi atau efek obat melalui berbagai mekanisme. Oleh karena itu, aturan minum setiap obat dapat berbeda. Menurut Tsume (2023), konsumsi makanan mengubah fisiologi saluran cerna, termasuk pH lambung, kecepatan pengosongan lambung, sekresi empedu, dan aliran darah spanknik seluruhnya dapat memengaruhi seberapa banyak dan seberapa cepat obat diserap ke dalam aliran darah.
Sedangkan jalur farmakodinamik seperti pada kasus pisang dan obat penahan kalium terjadi ketika makanan berinteraksi secara langsung dengan mekanisme kerja obat pada level reseptor atau sistem biologis, mengubah intensitas efek obat tanpa memengaruhi kadarnya dalam darah. Lacruz-Pleguezuelos et al. (2023) menegaskan bahwa kedua jenis interaksi ini sama-sama relevan secara klinis dan perlu diperhitungkan dalam praktik kefarmasian sehari-hari.
Jangan Melarang Pisang secara Sembarangan
Banyak orang sudah tahu bahwa beberapa obat harus diminum sesudah makan dan sebagian lainnya harus diminum sebelum makan. Akan tetapi, sedikit yang menyadari bahwa “makan” tidak bersifat netral jenis dan komposisi makanannya pun menentukan. Tsume (2023) mengungkapkan bahwa pengaruh makanan terhadap bioavailabilitas oral obat sangat bervariasi tergantung sifat fisikokimia obat, jenis formulasi, serta komposisi makanan yang dikonsumsi bersamaan.
Salah satu contoh yang paling terkenal mungkin adalah jus grapefruit. Jus ini mengandung senyawa furanocoumarin yang menghambat enzim CYP3A4 di usus. Enzim ini bertanggung jawab memetabolisme banyak jenis obat. Ketika enzim ini dihambat, kadar obat dalam darah bisa melonjak berbahaya. Beberapa obat statin, penghambat saluran kalsium, dan imunosupresan diketahui berinteraksi serius dengan grapefruit.
Dalam konteks yang lebih luas, kajian Wang et al. (2025) membahas bagaimana sifat fisik makanan dapat memengaruhi absorpsi obat oral melalui perubahan pada fisiologi saluran cerna, peningkatan aliran darah spanknik, dan pergeseran komposisi mikrobiota usus. Ini berarti bahwa tekstur dan sifat fisik makanan yang dikonsumsi bersama obat pun turut berperan, tidak hanya kandungan kimianya.
Tanyakan kepada Apoteker
Untuk sebagian besar obat umum seperti parasetamol, antasida, atau vitamin, pisang tidak menimbulkan interaksi bermakna. Air putih merupakan pilihan awal yang paling aman untuk menelan obat, kecuali petunjuk obat atau tenaga kesehatan memberikan instruksi lain.
Namun, bagi pasien yang mengonsumsi obat antihipertensi golongan ACE inhibitor atau ARB, diuretik hemat kalium, atau obat-obatan lain yang memengaruhi kadar kalium dan elektrolit darah, pasien yang menggunakan obat tertentu perlu berkonsultasi mengenai jumlah asupan kalium hariannya, termasuk dari pisang dan makanan lain.
Risiko umumnya bukan berasal dari satu buah pisang yang dimakan sesekali, melainkan dari kombinasi faktor risiko, pola konsumsi, dan jenis obat yang digunakan. Dokter atau apoteker adalah sumber informasi pertama yang harus dilibatkan setiap kali seseorang mendapatkan resep obat baru termasuk untuk bertanya: “Apakah ada makanan yang perlu saya hindari atau batasi?
Pisang tetaplah buah yang menyehatkan. Tapi tubuh manusia adalah sistem yang kompleks, dan obat-obatan bekerja dalam sistem itu dengan cara yang sangat spesifik. Ketika dua hal yang “baik” bertemu pada waktu yang salah atau pada kondisi yang tidak tepat, hasilnya bisa jauh dari kata baik.
Maka lain kali tangan meraih pisang saat hendak minum obat, mungkin pertanyaannya bukan lagi, “Kenapa tidak?” melainkan: “Apakah ini aman untuk obat yang sedang saya konsumsi?”
DAFTAR PUSTAKA
- Degefu, N., Getachew, M., & Amare, F. (2022). Knowledge of drug-food interactions among healthcare professionals working in public hospitals in Ethiopia. Journal of Multidisciplinary Healthcare, 15, 2635–2645. https://doi.org/10.2147/JMDH.S389068
- Lacruz-Pleguezuelos, B., Piette, O., Garranzo, M., Pérez-Serrano, D., Milešević, J., Espinosa-Salinas, I., Ramírez de Molina, A., Laguna, T., & Carrillo de Santa Pau, E. (2023). FooDrugs: A comprehensive food–drug interactions database with text documents and transcriptional data. Database, 2023, baad075. https://doi.org/10.1093/database/baad075
- Tsume, Y. (2023). Evaluation and prediction of oral drug absorption and bioequivalence with food-drug interaction. Drug Metabolism and Pharmacokinetics, 50, 100502. https://doi.org/10.1016/j.dmpk.2023.100502
- Wang, Z., Xu, W., Li, X., Liu, S., Wu, X., & Wang, H. (2025). Impact of food physical properties on oral drug absorption: A comprehensive review. Drug Design, Development and Therapy, 19, 267–280. https://doi.org/10.2147/DDDT.S497515
- National Institutes of Health, Office of Dietary Supplements. (2022). Potassium: Fact sheet for health professionals. U.S. Department of Health and Human Services. https://ods.od.nih.gov/factsheets/Potassium-HealthProfessional/













