Pendidikan

Wisuda ke-97 UIN Raden Fatah, Rektor Ajak Alumni Jadi Agen Penggerak Ekonomi Syariah di Era Digital

×

Wisuda ke-97 UIN Raden Fatah, Rektor Ajak Alumni Jadi Agen Penggerak Ekonomi Syariah di Era Digital

Sebarkan artikel ini
(Suasana Wisuda ke-97 UIN Raden Fatah)

SumselMedia.Com, Palembang –

Sebanyak 1.023 mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang resmi diwisuda pada Wisuda ke-97 yang digelar, Sabtu (27/6/2026). Para lulusan tersebut terdiri atas 947 lulusan Program Sarjana (S1), 49 lulusan Program Magister (S2), dan 27 lulusan Program Doktor (S3).

Pada momentum tersebut, Rektor UIN Raden Fatah Palembang, Prof. Dr. Muhammad Adil, M.A., mengajak seluruh alumni menjadi agen penggerak ekonomi syariah yang mampu memadukan nilai-nilai Islam, tradisi keagamaan, dan kemajuan teknologi digital guna mendorong kesejahteraan masyarakat.

Dalam sambutannya, Prof. Adil mengatakan tema wisuda kali ini, “Peran Alumni UIN Raden Fatah sebagai Agen Penggerak Ekonomi Syariah Berbasis Tradisi Keagamaan di Era Transformasi Digital”, bukan sekadar rangkaian kata, melainkan sebuah gagasan strategis yang sangat relevan dengan perkembangan dunia yang tengah memasuki era transformasi digital.

Menurutnya, kemajuan teknologi seperti artificial intelligence (AI), big data, internet of things (IoT), financial technology (fintech), hingga blockchain telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, mulai dari cara berkomunikasi, belajar, bekerja, hingga aktivitas ekonomi dan sosial.

“Transformasi digital membuka peluang besar bagi peningkatan produktivitas dan inovasi. Namun di sisi lain juga menghadirkan tantangan berupa kesenjangan akses teknologi, perubahan struktur pasar tenaga kerja, persoalan etika digital, keamanan data, hingga potensi melemahnya nilai-nilai sosial. Karena itu dibutuhkan sumber daya manusia yang unggul, adaptif, berkarakter, serta mampu merespons perubahan secara kritis, bijaksana, dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Prof. Adil menegaskan ekonomi syariah memiliki posisi yang semakin strategis karena tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mengedepankan prinsip keadilan, keseimbangan, keberlanjutan, dan kemaslahatan masyarakat.

Menurutnya, aktivitas ekonomi dalam Islam tidak dapat dipisahkan dari nilai moral dan spiritual sehingga pembangunan ekonomi harus mampu menghadirkan pemerataan kesejahteraan, mengurangi kesenjangan sosial, memperkuat solidaritas, serta memberikan manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat.

Ia menjelaskan ekonomi syariah sesungguhnya telah lama hidup di tengah masyarakat Indonesia melalui berbagai tradisi keagamaan.

“Jauh sebelum berkembangnya lembaga keuangan syariah modern, masyarakat telah mempraktikkan ekonomi syariah melalui zakat, infak, sedekah, wakaf, gotong royong, ta’awun, santunan kepada anak yatim, dan berbagai bentuk filantropi Islam lainnya,” katanya.

Di Sumatera Selatan, lanjutnya, budaya beselang atau gotong royong menjadi bukti bahwa semangat saling membantu telah mengakar kuat dan menjadi modal sosial yang sangat berharga dalam membangun ekonomi yang berkeadilan dan inklusif.

Karena itu, alumni UIN Raden Fatah memiliki posisi strategis sebagai representasi perguruan tinggi Islam yang mampu menjembatani nilai-nilai Islam dengan kebutuhan masyarakat modern yang semakin terdigitalisasi.

Dalam pidatonya, Prof. Adil juga menyoroti pentingnya zakat sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi umat. Menurutnya, zakat tidak hanya dipahami sebagai kewajiban ibadah, tetapi juga memiliki fungsi strategis sebagai instrumen redistribusi kekayaan apabila dikelola secara profesional, transparan, dan berkelanjutan.

Dana zakat, katanya, dapat dimanfaatkan untuk penyediaan modal usaha, pelatihan keterampilan, pemberdayaan UMKM, sektor pertanian dan perikanan, hingga peningkatan akses pendidikan sehingga mampu mendorong kemandirian masyarakat.

Selain zakat, ia juga mendorong pengembangan wakaf produktif yang tidak hanya dimanfaatkan untuk pembangunan masjid atau makam, tetapi juga diarahkan bagi pembangunan sekolah, rumah sakit, pusat riset, pengembangan usaha mikro, serta berbagai program pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Menurutnya, budaya sedekah dan infak yang telah lama hidup di Indonesia juga menjadi modal sosial yang sangat besar dalam memperkuat pembangunan ekonomi nasional.

Di era transformasi digital, seluruh potensi tersebut dinilai semakin mudah dikembangkan melalui pemanfaatan teknologi.

“Masyarakat kini dapat menunaikan zakat maupun wakaf hanya melalui telepon genggam. Digitalisasi membuat pengelolaan dana sosial keagamaan menjadi lebih efektif, transparan, akuntabel, serta dapat dipantau secara real time sehingga meningkatkan kepercayaan masyarakat,” jelasnya.

Oleh sebab itu, Prof. Adil berharap para alumni tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga menjadi pelaku inovasi yang mampu mengembangkan startup berbasis syariah, platform digital pengelolaan zakat, infak, sedekah, dan wakaf, marketplace produk halal, digitalisasi koperasi syariah, hingga sistem pendampingan UMKM berbasis teknologi.

Ia menegaskan teknologi digital harus menjadi instrumen untuk memperluas akses ekonomi, memperkuat inklusi keuangan syariah, meningkatkan efisiensi pengelolaan sumber daya umat, sekaligus menciptakan peluang usaha yang lebih luas dan berkelanjutan.

Menutup sambutannya, Prof. Adil berharap para alumni mampu menghidupkan kembali semangat zakat, wakaf, infak, dan sedekah sebagai kekuatan ekonomi umat.

Ia mengajak seluruh lulusan mengubah tradisi berbagi menjadi gerakan pemberdayaan, mengubah bantuan menjadi kemandirian, serta memadukan nilai-nilai Islam, ilmu pengetahuan, dan teknologi untuk membangun masa depan yang lebih baik.

“Jadikanlah diri Anda sebagai pelopor kemajuan masyarakat, bukan menjadi beban dalam kehidupan masyarakat. Bangunlah peradaban baru dengan integritas, inovasi, dan inspirasi sehingga mampu mengharumkan nama baik almamater serta berkontribusi bagi kesejahteraan masyarakat, agama, bangsa, dan negara,” pungkasnya.