PGRI

............

Opini

Bencana Tsunami Tanjung Lesung

PENULIS : MEGA KESUMA PUTRI (DOSEN PENDIDIKAN GEOGRAFI TERBIT 20 DESEMBER 2022)

SumselMedia.Com, Palembang-

Empat tahun silam, tepatnya pada 22 Desember 2018 terjadi Tsunami Tanjung Lesunng yang membuat masyarakat Indonesia berduka. Peristiwa ini disebabkan letusan Anak Krakatau di Selat Sunda yang menghantam daerah pesisir Banten dan Lampung, Indonesia.

Selat Sunda terletak di antara pulau Jawa dan Sumatra di Indonesia, dan di sepanjang Cincin Api Samudra Pasifik, yang dikenal dengan aktivitas seismik dan vulkaniknya yang teratur. Mengutip dari Disasterphilanthrophy.org, letusan tersebut memindahkan material vulkanik dan geologis yang cukup sehingga ketinggian Anak Krakatau naik dari 1.109 kaki (338 m) menjadi 361 kaki (110 m).
BMKG mengeluarkan peringatan air pasang sebelum tsunami melanda wilayah tersebut. Namun peringatan dini tsunami tidak dikeluarkan karena penyebab tsunami ini bukanlah gempa bumi.

Menurut laporan Pemerintah, peristiwa itu tercatat terjadi sebanyak empat kali di empat lokasi berbeda dengan gelombang pasang mencapai ketinggian 0,3 hingga 0,9 meter. Mengutip dari Reliefweb.int, gelombang tertinggi melanda Kecamatan Serang dengan ketinggian 0,9 m.
Ketinggian gelombang berkisar antara 12 kaki (3,75 m) hingga 21 kaki (6,6 m) dan tsunami melanda Pulau Sumatera di sisi utara selat dan Pulau Jawa di sisi selatan.

Peristiwa ini disebabkan oleh Anak Krakatau di Selat Sunda yang meletus dan menghantam daerah pesisir Banten dan Lampung, Indonesia. Setidaknya terdapat 426 orang tewas dan 7.202 terluka serta 23 orang hilang akibat peristiwa ini.
Orang yang tewas dalam peristiwa ini merupakan remaja, keluarga, dan oranh dewasa yang menghadiri konser tepi pantai oleh band pop Seventeen yang tidak mendapatkan peringatan sebelum tsunami melanda tenda tempat konser diadakan.

Tsunami Tanjung Lesung ini menyebabkan kerusakan parah pada infrastruktur di daerah yang terkena dampak serta pelabuhan yang mengakibatkan keterlambatan untuk mendapatkan bantuan dan pasokan pemulihan dalam jumlah besar kepada orang-orang yang terkena dampak tsunami ini.

Tanggapan saya mengenai bencana tsunami tanjung lesung adalah dapat diketahui bahwa indonesia menjadi wilayah rawan bencana karena dilalui oleh sirkum pasifik atau yang lebih dikenal dengan cincin api pasifik. Sirkum pasifik adalah sabuk seismeik tempat bertemunya banyak lempeng tektonik.

Jadi, dengan mengetahui fakta tersebut masyarakat indonesia harus selalu waspada dan tau bagaimana cara agar bisa menyikapi jika suatu saat terjadi atau terulang kembali bencana seperti itu, dengan mengetahui cara menyikapi hal tersebut masyarakat tidak begitu khawatir dengan datangnnya bencana tersebut walaupun kita tidak bisa tahu kapan akan terjadinya bencana tapi dengan begitu kita bisa sigap untuk menghadapi sewaktu-waktu bencana itu muncul.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button